Warga Keluhkan Kenaikan Harga Elpiji 12 Kilogram di Jabodetabek

Warga Keluhkan Kenaikan Harga Elpiji 12 Kilogram di Jabodetabek
Foto: Ilustrasi Warga Keluhkan Kenaikan Harga Elpiji 12 Kilogram di Jabodetabek.

Sejumlah warga di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menyatakan keberatan atas kenaikan harga elpiji nonsubsidi tabung 12 kilogram pada Minggu (19/4/2026). Penyesuaian harga ini dinilai membebani pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelompok masyarakat kelas menengah.

Kenaikan harga ini dikonfirmasi melalui data resmi Pertamina Patra Niaga yang dilansir dari Megapolitan. Di wilayah DKI Jakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, harga isi ulang gas 12 kg kini berada di angka Rp228.000 per tabung, sementara wilayah Maluku dan Papua mencapai Rp285.000.

Lydia, seorang warga berusia 34 tahun, menyampaikan keterkejutannya atas kebijakan harga baru tersebut saat ditemui di Jakarta Pusat. Ia menekankan bahwa pengguna gas nonsubsidi tidak selalu berasal dari kalangan ekonomi atas.

"Yang pakai 12 kg sih mampu, tapi bukan crazy rich. Banyak golongan tengah, dibilang miskin sih tidak, dibilang kaya apalagi, jadi ya kita juga kaget pas naik," ucap Lydia.

Lydia menjelaskan bahwa warga di lingkungannya telah beralih menggunakan Bright Gas yang memiliki harga lebih tinggi dibandingkan gas melon 3 kg. Ia merasa terbebani karena biaya yang dikeluarkan sebelumnya sudah cukup besar.

"Emang dari komplek itu serentak dipasangin yang merah (bright gas). Itu aja udah mahal dari yang biru. Kemaren beli Rp 200.000, mau nambah berapa lagi," lanjut Lydia.

Keterbatasan stok gas subsidi di wilayah tempat tinggalnya di Cikarang membuat Lydia sulit untuk beralih ke pilihan yang lebih murah. Ia berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi rakyat di tengah krisis yang terjadi.

"Mau banget sih balik ke 3 kg. Tapi di tempat tinggal saya di Cikarang susah dapetinnya. Di satu sisi paham lah lagi krisis, tapi jangan nyusahin rakyat juga," katanya.

Kondisi ekonomi saat ini juga memaksa masyarakat untuk lebih ketat dalam mengatur anggaran harian. Lydia menambahkan bahwa kenaikan biaya tidak hanya terjadi pada sektor energi, tetapi juga merembet ke kebutuhan lainnya.

"Mau berhenti beli gas, jadinya beli makan aja. Eh tapi plastiknya mahal, kanan kiri kena deh," katanya.

Senada dengan hal tersebut, Ismail Alburji (40) menyatakan bahwa kenaikan harga yang terus-menerus sangat membebani biaya hidup bulanan. Ia menganggap kenaikan harga ini sudah di luar batas toleransi wajar bagi keluarganya.

"Kalau naik sedikit mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau terus-terusan naik ya berat juga. Pengeluaran bulanan jadi semakin besar," kata Ismail.

Ismail merasa posisi masyarakat kelas menengah sering terjepit karena tidak memiliki akses ke subsidi namun tetap harus menanggung kenaikan harga pasar. Ia meminta agar harga gas nonsubsidi tetap stabil.

"Kita ini di tengah-tengah. Tidak pakai subsidi, tapi jangan naikin harga terus-terusan," katanya.

Sebagai penutup, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengontrol stabilitas harga di pasar. Perhatian khusus sangat diharapkan bagi mereka yang terdampak langsung oleh fluktuasi harga ini.

"Harapannya sih ada pengendalian harga atau solusi dari pemerintah," ujarnya.

Berdasarkan informasi Pertamina, harga yang tercantum berlaku untuk radius 60 kilometer dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Wilayah di luar radius tersebut akan dikenakan tambahan biaya distribusi sesuai tarif yang ditentukan.

Artikel terkait

Rekomendasi