Kenaikan BI Rate Tekan Mayoritas Saham Bank Besar

Kenaikan BI Rate Tekan Mayoritas Saham Bank Besar
Foto: Ilustrasi Kenaikan BI Rate Tekan Mayoritas Saham Bank Besar.

Pengumuman kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate memicu peningkatan volatilitas yang menekan mayoritas harga saham bank besar di Bursa Efek Indonesia pada penutupan perdagangan Kamis, 21 Mei 2026.

Dilansir dari Keuangan, seluruh saham kategori big banks melemah di zona merah kecuali PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang posisinya tidak berubah dari penutupan sebelumnya meskipun keempat emiten tersebut sempat dibuka menguat pada pagi hari.

Penurunan terdalam dialami PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 1,42 persen ke harga Rp 4.170, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang merosot 0,66 persen menjadi Rp 3.020, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,42 persen ke level Rp 5.950.

Aksi jual bersih oleh investor asing juga membayangi sektor ini dengan net sell terbesar pada saham BBRI senilai Rp 145,92 miliar, diikuti BMRI sebesar Rp 141,5 billion, BBCA senilai Rp 110,2 miliar, serta BBNI dengan net sell terkecil mencapai Rp 23,9 miliar.

Kondisi pergerakan saham emiten perbankan besar ini terjadi setelah Bank Indonesia menetapkan penyesuaian suku bunga acuan ke level 5,25 persen.

"Kami melihat kenaikan BI Rate cenderung memberikan sentimen campuran bagi sektor perbankan," kata Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia saat dihubungi Kamis, 21 Mei 2026.

Azis menilai saham big banks masih memiliki daya tarik bagi investor karena ditopang oleh fundamental yang kuat serta nilai valuasi yang terhitung murah, meski gejolak pasar berpotensi terjadi dalam jangka pendek.

Kebijakan pengetatan moneter ini diproyeksikan memicu kenaikan biaya dana atau cost of fund yang berisiko menekan margin bunga bersih (NIM) perbankan, terutama di tengah ketatnya persaingan perebutan dana pihak ketiga serta potensi perlambatan pertumbuhan kredit akibat bunga pinjaman yang meninggi.

"Dampaknya kami nilai belum terlalu drastis untuk saat ini karena kondisi permodalan dan kualitas aset perbankan domestik masih cukup solid," ucap Azis.

Artikel terkait

Rekomendasi