Kenaikan BI Rate Bakal Dongkrak Suku Bunga KPR Non-Subsidi

Kenaikan BI Rate Bakal Dongkrak Suku Bunga KPR Non-Subsidi
Foto: Ilustrasi Kenaikan BI Rate Bakal Dongkrak Suku Bunga KPR Non-Subsidi.

Suku bunga komersial termasuk kredit pemilikan rumah non-subsidi diprediksi melonjak imbas kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Rabu (20/05/2026). Lonjakan ini diperkirakan bakal menambah beban cicilan rumah para konsumen, seperti dilansir dari Kompas.

Asosiasi Realestat Indonesia menilai kebijakan moneter terbaru ini memicu situasi yang menyulitkan bagi industri properti. Lonjakan bunga komersial tersebut dipastikan membawa dampak rambatan yang signifikan bagi seluruh pelaku pasar.

"Memang kondisi saat ini serba sulit. Kenaikan BI Rate tentu akan mendorong kenaikan suku bunga komersial, termasuk untuk KPR non-subsidi. Pasti efeknya akan memberatkan, baik calon pembeli ataupun konsumen yang sedang mengangsur," kata Wakil Ketua Umum REI, Bambang Ekajaya.

Efek dari penyesuaian suku bunga acuan ini tidak serta-merta langsung menghantam sektor riil. Sektor properti nasional diproyeksikan baru akan merasakan dampak finansial tersebut dalam beberapa bulan ke depan di tengah situasi pasar yang belum pulih.

"Tentu efeknya baru akan terasa dua sampai tiga bulan lagi. Sementara pasar properti masih sulit," ujarnya.

Tantangan yang dihadapi industri perumahan juga semakin berlapis akibat dinamika geopolitik global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang belum mereda berpotensi besar memicu lonjakan pada biaya material pembangunan.

"Apalagi kalau perang di Timur Tengah belum tuntas, biaya konstruksi akan terkerek naik tajam. Kalau ditambah bunga KPR juga melonjak, pasti membuat calon pembeli akan menahan diri," kata Bambang.

Kombinasi antara kenaikan harga bangunan dan suku bunga tinggi menekan ruang gerak para pengembang. Perusahaan properti tidak dapat serta-merta menaikkan harga jual ke pasar karena kondisi finansial masyarakat yang masih lesu.

"Sementara sebagai developer, menaikkan harga properti bukan pilihan yang tepat, sedang daya beli melemah," ucap dia.

Menyikapi tekanan ekonomi tersebut, para pelaku usaha kini memilih opsi yang lebih aman demi menjaga kelangsungan bisnis. Strategi utama yang diterapkan adalah memaksimalkan penjualan stok hunian yang sudah dibangun.

"Saat ini yang terbaik tentu wait and see sambil tetap memasarkan yang ada," katanya.

Langkah pengendalian risiko juga dilakukan dengan menangguhkan proyek-proyek ekspansi. Keputusan peluncuran produk properti baru akan ditunda hingga indikator makroekonomi menunjukkan tanda-tanda stabilitas.

"Tetapi proyek baru, untuk saya, hold dulu sampai semua kembali normal," tutur Bambang.

Artikel terkait

Rekomendasi