Indonesia dan China Perkuat Kemitraan Strategis Rantai Pasok Energi

Indonesia dan China Perkuat Kemitraan Strategis Rantai Pasok Energi
Foto: Ilustrasi Indonesia dan China Perkuat Kemitraan Strategis Rantai Pasok Energi.

Sektor energi dan pertambangan Indonesia dan China kini berfokus pada penguatan kemitraan strategis rantai pasok regional dalam ajang Indonesia Coal and Energy Expo (ICEE) 2026 di Jakarta International Expo pada Jumat (15/5/2026). Kerja sama ini mencakup pengembangan teknologi pertambangan hingga transformasi industri rendah karbon.

Peningkatan hubungan kedua negara tersebut dinilai telah melampaui sekadar perdagangan komoditas biasa. Fokus utama saat ini bergeser pada efisiensi logistik dan integrasi infrastruktur energi yang lebih modern antara kedua belah pihak.

Head of Marketing MMS Resources, Muhamad Saly Putra, menjelaskan bahwa dinamika pasar global menuntut adanya kepastian pasokan serta komunikasi yang lebih terbuka. Dilansir dari Money, stabilitas kemitraan ini menjadi kunci utama bagi keberlanjutan industri energi nasional.

"Forum seperti ICEE menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan China saat ini tidak lagi sebatas hubungan perdagangan biasa, tetapi sudah berkembang menjadi kemitraan strategis dalam rantai pasok energi regional. Kami melihat adanya kebutuhan besar terhadap continuity of supply, reliability, dan kerja sama jangka panjang dari Indonesia," ujar Muhamad Saly Putra, Head of Marketing MMS Resources.

Ketergantungan industri batu bara domestik terhadap pasar China masih tergolong sangat tinggi. Data Kpler mencatat sekitar 42 persen dari total ekspor batu bara Indonesia dialokasikan ke China, dengan volume mencapai 305 juta ton pada tahun 2025.

"Indonesia masih memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pasar China. Karena itu, forum seperti ICEE menjadi penting untuk memperkuat mutual understanding, membuka peluang kolaborasi baru, serta membangun hubungan industri yang lebih sustainable ke depan," lanjut Muhamad Saly Putra, Head of Marketing MMS Resources.

Saly menambahkan bahwa keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam ICEE 2026 memperluas ruang kolaborasi industri. Peserta pameran meliputi perusahaan tambang, asosiasi logistik, hingga penyedia teknologi digitalisasi operasional dari kedua negara.

"Yang hadir di sini bukan hanya buyer dan seller, tetapi juga asosiasi industri, perusahaan teknologi, hingga perwakilan provinsi dari China. Ini membuka ruang diskusi yang jauh lebih strategis, mulai dari pengembangan teknologi pertambangan, efisiensi logistik, digitalisasi operasional, hingga potensi kolaborasi untuk mendukung industri energi yang lebih rendah emisi," kata Muhamad Saly Putra, Head of Marketing MMS Resources.

Pameran tahun ini turut menyoroti isu pertambangan hijau atau green mining serta penggunaan teknologi batu bara bersih. Lebih dari 150 perusahaan energi global berpartisipasi untuk merespons tantangan transformasi industri rendah emisi di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi