Kementerian ESDM Uji Coba CNG untuk Rumah Tangga Guna Tekan Impor LPG

Kementerian ESDM Uji Coba CNG untuk Rumah Tangga Guna Tekan Impor LPG
Foto: Ilustrasi Kementerian ESDM Uji Coba CNG untuk Rumah Tangga Guna Tekan Impor LPG.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menjajaki penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bahan bakar alternatif bagi sektor rumah tangga. Langkah ini diambil sebagai strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan yang tinggi terhadap impor LPG.

Dikutip dari Suara, salah satu tahap yang kini tengah diuji coba oleh pemerintah adalah pengemasan gas alam terkompresi tersebut ke dalam wadah berukuran 3 kilogram. Namun, rencana ini mendapatkan sorotan tajam dari para praktisi industri migas terkait aspek teknis dan keamanan.

Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal, memberikan catatan mengenai dimensi fisik bahan bakar tersebut. Ia menyebutkan bahwa karakteristik CNG sangat berbeda dengan LPG yang umum digunakan masyarakat saat ini.

Persoalan utama dalam penerapan CNG di rumah tangga terletak pada kerapatan atau densitas energinya. Moshe menjelaskan bahwa densitas energi CNG tercatat sekitar 2,5 kali lebih rendah jika dibandingkan dengan gas LPG.

Kondisi ini menyebabkan volume gas yang dibutuhkan untuk menghasilkan panas setara 3 kg LPG menjadi jauh lebih besar. Hal tersebut berdampak langsung pada bentuk fisik tabung yang akan diterima oleh konsumen di masa mendatang.

"Bayangkan jika kita memikirkan tabung CNG 3 kilogram. Itu isinya, tetapi untuk mendapatkan densitas energi yang sama, fisik tabungnya sendiri kemungkinan besar justru akan lebih besar daripada tabung LPG 12 kilogram yang kita kenal sekarang," kata Moshe.

Selain dimensi yang membengkak, tabung untuk CNG memerlukan material yang jauh lebih kokoh karena perbedaan tekanan yang sangat ekstrem. LPG hanya memiliki tekanan di kisaran 5 hingga 10 bar, sedangkan CNG mencapai 200 sampai 250 bar.

Tekanan yang mencapai 25 kali lipat lebih kuat ini mewajibkan dinding tabung dibuat lebih tebal demi menjamin keamanan dan mencegah ledakan. Hal ini otomatis membuat bobot wadah menjadi jauh lebih berat bagi pengguna.

"Ujung-ujungnya tabungnya jadi lebih berat. Sudah lebih besar, lebih berat pula. Bahkan bobot tabungnya bisa melampaui berat gas di dalamnya," ujar Moshe.

Biaya Material dan Modifikasi Perangkat

Penggunaan material karbon fiber sebenarnya bisa menjadi solusi untuk mengurangi beban tabung yang berat. Namun, harga material ini diprediksi akan membuat harga jual tabung melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan tabung baja konvensional.

Tantangan lain muncul dari perangkat memasak yang digunakan masyarakat. Karena perbedaan kandungan kalori, kompor LPG yang ada saat ini tidak bisa langsung digunakan untuk membakar CNG tanpa modifikasi atau penggantian perangkat khusus.

Mempertimbangkan risiko keamanan di pemukiman padat akibat tekanan gas yang sangat tinggi, Moshe Rizal tidak merekomendasikan penggunaan CNG untuk skala rumah tangga kecil. Ia menyarankan agar pemanfaatan bahan bakar ini lebih difokuskan pada sektor industri.

"Di hotel, tabung CNG bisa ditempatkan di area khusus atau luar ruangan untuk meminimalkan risiko. Untuk rumah tangga, hal ini sulit diterapkan mengingat tekanan gasnya yang sangat tinggi," kata Moshe.

Artikel terkait

Rekomendasi