Kemenperin Dorong Daya Saing Ekspor Industri saat Rupiah Melemah

Kemenperin Dorong Daya Saing Ekspor Industri saat Rupiah Melemah
Foto: Ilustrasi Kemenperin Dorong Daya Saing Ekspor Industri saat Rupiah Melemah.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memandang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai peluang strategis. Tekanan kurs yang menyentuh angka Rp17.382 per dolar AS dinilai mampu mendongkrak daya saing ekspor manufaktur nasional.

Dikutip dari Suara, kondisi ini menguntungkan sektor industri yang mengandalkan bahan baku dari dalam negeri. Harga produk asal Indonesia menjadi lebih kompetitif saat dipasarkan di skala internasional di tengah rekor nilai tukar terendah tersebut.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni, menjelaskan bahwa industri yang minim ketergantungan pada bahan baku impor akan mendapat keuntungan besar. Salah satu subsektor yang sangat berpotensi adalah industri kertas dan pengolahannya.

"Kalau mata uangnya itu eh makin apa, makin eh terkena tekanan, kita itu ekspor kita kan bagus," kata Febri di Jakarta, Kamis (29/4/2026).

Menurut Febri, sektor berbasis bahan baku domestik seperti pengolahan kertas serta kelapa sawit (CPO) beserta turunannya kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Kelompok industri ini paling siap menikmati momentum penguatan pasar global.

"Produk-produk kita makin bersaing. Itu untuk industri-industri ya, yang bahan bakunya emang dari dalam negeri," ujarnya.

Sektor kertas juga diuntungkan oleh tren substitusi plastik di pasar dunia. Gabungan antara peningkatan permintaan global dan keunggulan kurs menciptakan dorongan ganda bagi pertumbuhan sektor ini di masa mendatang.

"Tadi, kertas dan pengolahan kertas, ya. Terus produk-produk CPO dan turunannya itu kan daya saingnya akan makin, makin kuat," ucap dia.

Kemenperin tidak menampik bahwa depresiasi rupiah tetap membawa tantangan signifikan bagi industri dengan komponen luar negeri yang besar. Sektor-sektor yang ketergantungan impornya tinggi menghadapi kendala operasional akibat biaya bahan baku yang membengkak.

"Nah, untuk produk-produk yang kita masih menggunakan bahan baku impor, ya bahan baku impor, ini memang ada kendala," kata Febri.

Namun, pemerintah meyakini dampak jangka pendek bagi importir masih bisa diredam. Hal ini dikarenakan pasokan bahan baku umumnya telah diamankan melalui mekanisme kontrak jangka panjang serta sistem neraca komoditas yang berlaku.

"Di mana neraca komoditas, itu udah kontrak. Udah kontrak jangka panjang dan barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia," ujarnya.

Sebagai langkah mitigasi, Kemenperin mengimbau pelaku usaha untuk beralih menggunakan fasilitas Local Currency Transaction (LCT). Skema dari Bank Indonesia ini memungkinkan transaksi antarnegara tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dolar AS.

Momen ini juga dianggap sebagai waktu yang tepat bagi industri yang selama ini fokus pada pasar domestik untuk mulai berekspansi ke luar negeri. Penetrasi ke rantai pasok global menjadi langkah logis di tengah kondisi nilai tukar saat ini.

"Nah inilah momentum untuk masuk ke pasar global, ke rantai pasok global," tutur Febri.

Pemerintah optimistis pelaku usaha dapat memanfaatkan situasi dolar yang tinggi untuk memperbesar volume ekspor. Fokus utama terletak pada penguatan efisiensi produksi dan pemanfaatan bahan mentah lokal secara maksimal.

"Kalau selama ini industrinya berorientasi pada pasar domestik, nah inilah momentum untuk masuk ke pasar global," pungkas Febri.

Artikel terkait

Rekomendasi