Kemenperin Bantah Narasi Deindustrialisasi di Sektor Manufaktur

Kemenperin Bantah Narasi Deindustrialisasi di Sektor Manufaktur
Foto: Ilustrasi Kemenperin Bantah Narasi Deindustrialisasi di Sektor Manufaktur.

Kementerian Perindustrian menyanggah klaim yang menyebut Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi akibat penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap ekonomi nasional di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (29/5/2026). Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan penggunaan indikator yang dinilai tidak mencerminkan kondisi riil industri saat ini.

Febri Hendri Antoni Arief selaku Juru Bicara Kemenperin memberikan tanggapan langsung terhadap narasi negatif yang berkembang mengenai performa sektor pengolahan. Dilansir dari Ekonomi, pemerintah memastikan bahwa struktur industri nasional tetap kokoh dan terus menunjukkan tren pertumbuhan positif.

"Kami membantah adanya deindustrialisasi," ujarnya di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (29/5/2026).

Kemenperin memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang mencatat kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional mencapai 19,07 persen. Febri menekankan bahwa perbandingan data kontribusi PDB antara periode sebelum dan sesudah 2009 seringkali menyesatkan karena adanya perubahan metodologi perhitungan oleh otoritas statistik.

"Kalau ada ekonom atau pengamat yg mengambil data kontribusi PDB Industri Pengolahan 2001-2025 maka data kontribusi tersebut tidak dapat diperbandingkan karena konsep, definisi dan metodologi perhitungan Industri Pengolahan telah berubah dan," tegas Febri.

Perubahan tersebut mencakup pemecahan Industri Pengolahan menjadi empat lapangan usaha berbeda sejak 2010, serta pergeseran perhitungan dari harga produsen ke harga dasar. Hal ini secara teknis menyebabkan persentase kontribusi industri terlihat mengecil dibandingkan data pada dekade sebelumnya.

"Akibat perubahan konsep, definisi dan metodologi perhitungan PDB industri pengolahan menyebabkan nilai PDB dan kontribusi PDB industri pengolahan turun dari perhitungan tahun sebelumnya. Oleh karena itu, tidak apple to apple kalau kita bandingkan kontribusi PDB Industri Pengolahan sebelum dan sesudah tahun 2009 atau pada periode adanya perubahan hal tersebut," katanya.

Terkait indikator pertumbuhan yang berada di bawah ambang batas, Febri menjelaskan bahwa manufaktur Indonesia masih tumbuh stabil di kisaran 4 hingga 6 persen. Angka tersebut dianggap masih sejajar dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada level 5 persen.

"Jadi tidak terjadi indikasi yang kedua ini," katanya.

Mengenai isu perpindahan tenaga kerja, Kemenperin melaporkan tidak ada pergeseran massal dari sektor industri ke sektor jasa. Data menunjukkan jumlah pekerja di industri pengolahan tetap stabil di angka 21,6 juta orang dengan tren penambahan setiap tahunnya.

"Kami menegaskan bahwa manufaktur Indonesia tidak mengalami gejala deindustrialisasi dini apalagi deindustrialisasi," tegas Febri lagi.

Artikel terkait

Rekomendasi