Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menekankan pentingnya pengembangan industri gastronomi sebagai sistem terintegrasi guna memperkuat identitas dan daya saing pariwisata Indonesia di kancah global pada Senin (27/4/2026). Langkah ini diambil agar sektor kuliner nasional mampu bersaing dengan negara lain di dunia.
Sektor gastronomi dinilai sebagai kekuatan strategis dalam membangun karakter pariwisata yang berkelanjutan, dilansir dari Detik Travel. Pengalaman rasa dan narasi budaya yang menyertai makanan menjadi faktor penting bagi wisatawan dalam mengenali sebuah destinasi wisata di tanah air.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini M. Paham, menjelaskan bahwa pendekatan parsial tidak lagi cukup untuk memajukan industri ini. Kualitas pengalaman kuliner disebut berdampak langsung terhadap loyalitas serta tingkat kepuasan pengunjung.
"Pengembangan gastronomi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus dipandang sebagai sebuah sistem yang terintegrasi," kata Martini M. Paham, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar.
Pernyataan tersebut merujuk pada cakupan luas industri yang melibatkan berbagai elemen pendukung. Martini merinci bahwa integrasi ini menyentuh aspek fundamental mulai dari kompetensi tenaga kerja hingga strategi pemasaran yang masif.
"Ini mencakup kualitas sumber daya manusia, standar kebersihan dan sanitasi, pemahaman budaya, penciptaan nilai, strategi kolaborasi, hingga penguatan pemasaran," ujar Martini M. Paham, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar.
Kemenpar kini aktif mendorong pelaku industri untuk meningkatkan standar kualitas sektor gastronomi demi memperkokoh posisi Indonesia. Selain fokus pada identitas budaya, aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi poin utama dalam transformasi industri ini.
Penerapan praktik ramah lingkungan menjadi keharusan, yang tidak hanya terbatas pada penggunaan bahan baku lokal. Fokus utama mencakup efisiensi energi, sistem pengelolaan limbah yang baik, serta langkah nyata dalam meminimalisir sisa makanan atau food waste di destinasi wisata.