Kementerian Keuangan Republik Indonesia melancarkan serangan terhadap disinformasi digital di tengah volatilitas pasar finansial yang dinamis. Dilansir dari Investortrust, kementerian menerbitkan klarifikasi darurat demi membantah laporan media sosial yang menyebut Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN menipis.
Kementerian Keuangan menegaskan kabar viral tersebut sebagai hoaks berbahaya yang sengaja dirancang untuk memicu kepanikan pasar hingga dapat meruntuhkan nilai tukar mata uang. Dalam situasi pasar saat ini, pergerakan mata uang Rupiah sempat berada pada kisaran level 17.300 per Dolar AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan langkah edukasi publik guna melindungi kredibilitas penilaian kedaulatan utang Indonesia. Berdasarkan data fiskal resmi, Indonesia memiliki cadangan likuid atau Saldo Anggaran Lebih sebesar 26,4 miliar Dolar AS atau setara Rp 420 triliun.
Cadangan kas jumbo tersebut disiapkan secara khusus untuk meredam gejolak eksternal global tanpa harus memotong subsidi atau menghentikan roda pertumbuhan ekonomi nasional. Kemenkeu secara spesifik menyoroti rekaman video TikTok dari akun yang meniru identitas media berita resmi.
Video menyesatkan itu mengklaim bahwa anggaran nasional negara hanya akan mampu bertahan selama tiga bulan ke depan. Pemerintah dengan tegas menyatakan narasi tersebut tidak benar dan mengancam stabilitas ekonomi.
"The news circulating that the Indonesian APBN is only enough for 3 months and the Rupiah could touch Rp 20,000 per US dollar is hoax news," kata Kementerian Keuangan dalam pernyataan resmi pada Kamis (23/4/2026).
Kondisi realitas menunjukkan realisasi pendapatan negara hingga akhir Maret 2026 justru berhasil menyentuh angka Rp 574,9 trillion atau setara 36,1 miliar Dolar AS. Jumlah perolehan tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 10,5% yang dipicu oleh melesatnya setoran PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Peningkatan instrumen pajak hingga mencapai 57,7% mengindikasikan tingkat konsumsi domestik masyarakat yang masih bergerak sangat aktif. Di sisi lain, Bank Indonesia turut mengerahkan instrumen moneter di pasar obligasi demi menjaga nilai tukar nasional.
Bank sentral mengoptimalkan instrumen pro-market berupa Sekuritas Rupiah Bank Indonesia untuk menyerap likuiditas pasar. Berdasarkan rilis data operasional hingga tanggal 21 April, instrumen SRBI tercatat sukses menarik dana segar mencapai Rp 885,41 triliun atau senilai 55,6 miliar Dolar AS.
Investor global memegang porsi kepemilikan sebesar 18.75% dari total instrumen keuangan tersebut yang sekaligus menjadi indikator kepercayaan pasar internasional terhadap BI Rate di level 4.75%. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan arus modal masuk dalam jumlah besar ini berkontribusi langsung menyokong stabilitas mata uang.
Langkah penguatan Rupiah terus berjalan di tengah peningkatan eskalasi ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Bank Indonesia tetap konsisten menerapkan strategi intervensi ganda di pasar sekunder obligasi pemerintah, pasar NDF, serta pasar spot.
Perry Warjiyo menilai indikator fundamental mata uang domestik berada pada posisi yang kuat berkat ditopang oleh kinerja positif perekonomian nasional serta efektivitas bauran kebijakan moneter bank sentral. Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap kokoh dari imbas dinamika geopolitik global termasuk konflik bersenjata di Iran.
"We emphasize that the current rupiah exchange rate is undervalued compared to its fundamentals," kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada Rabu.
Sektor Perbankan Nasional Tetap Stabil
Dampak Minimal terhadap Portofolio Kredit
Pelaku industri perbankan nasional turut memperkuat pernyataan pemerintah mengenai stabilitas fundamental keuangan dalam negeri. Manajemen PT Bank Central Asia Tbk selaku salah satu bank swasta terbesar menyatakan penurunan nilai tukar Rupiah ke level 17.300 tidak mengganggu kinerja portofolio perseroan.
"BCAÔÇÖs foreign currency (FX) portfolio is currently only about 4.9%, less than 5% of the total credit portfolio," kata Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih dalam konferensi pers virtual pada Kamis (23/4/2026).
"So it is very small, and if a Rupiah weakening occurs, the impact is not significant," ujar John Kosasih.
John Kosasih menambahkan bagi para debitur BCA yang bergerak di bidang industri orientasi ekspor, pelemahan nilai tukar Rupiah justru menjadi stimulus bagi pendapatan mereka. Namun demikian, pihak perbankan mengakui faktor stabilitas nilai tukar tetap menjadi hal utama yang paling dibutuhkan dunia usaha guna menjamin kepastian investasi jangka panjang.