Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyiapkan langkah intervensi pasar dengan mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.529 per dollar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026).
Langkah strategis ini dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing ke dalam negeri. Sebagaimana dilansir dari Money, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam mengelola volatilitas mata uang Garuda.
"Kita serahkan ke ahlinya, Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan (rupiah) dengan baik," jelas Purbaya, Selasa (12/5/2026).
Kementerian Keuangan tidak sepenuhnya melepas beban stabilisasi kepada otoritas moneter. Lembaga ini akan memanfaatkan Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebagai instrumen pendukung untuk memperkuat nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar obligasi agar imbal hasil tidak melonjak tajam.
"Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market, itu dengan Bond Stabilization Fund (BSF)," jelas Purbaya.
Pemerintah berharap bantuan likuiditas dari anggaran yang tidak terpakai ini dapat memberikan sentimen positif bagi pasar. Purbaya menegaskan bahwa intervensi akan dilakukan secara bertahap untuk menjaga keseimbangan pasar modal domestik.
"Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur (Sisa Anggaran Lebih/SAL), kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi," ujar Purbaya.
Sementara itu, tekanan terhadap mata uang nasional ini dipicu oleh faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang menekan posisi rupiah.
"Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat," ujar Destry, Selasa (12/5/2026).
Selain faktor global, terdapat siklus tahunan yang meningkatkan permintaan valuta asing di dalam negeri. Kebutuhan dollar AS meningkat tajam untuk keperluan pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen perusahaan kepada pemegang saham asing, serta kebutuhan biaya perjalanan ibadah haji.
"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman," kata Destry.
Guna merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia terus melakukan operasi moneter di pasar valas melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF). Otoritas moneter memprediksi tekanan ini akan mereda seiring dengan komitmen BI untuk tetap berada di pasar.
"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," kata Destry.