Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memanfaatkan hasil Tes Kemampuan Akademik 2026 sebagai instrumen evaluasi untuk memperbaiki mutu pembelajaran di Indonesia, bukan sebagai ukuran kegagalan siswa maupun sekolah.
Langkah penataan kebijakan edukasi ini diambil berdasarkan hasil pemetaan kemampuan siswa pada jenjang sekolah menengah. Pemetaan mutu tersebut dilansir dari Edukasi untuk merumuskan strategi akselerasi yang tepat sasaran di tingkat daerah hingga kementerian.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin memberikan penjelasan mengenai arah pemanfaatan hasil ujian tersebut pada Senin (20/4/2026). Pihaknya menekankan pentingnya sinergi semua lini berdasarkan capaian yang ada saat ini.
"Sebetulnya TKA ini kan untuk perbaikan kualitas pembelajaran ya. Bukan hanya sekolah, pemerintah daerah maupun kementerian juga harus punya strategi yang lebih bisa mengakselerasi kualitas dengan hasil existing yang sekarang," kata Toni Toharudin.
Menurut Toni, perolehan nilai dari ujian yang telah diselenggarakan pada tingkat SMA tahun 2025 serta SMP tahun 2026 merepresentasikan kemampuan riil para siswa. Basis data konkret ini dinilai sangat berharga bagi penyusunan program ke depan.
"Jadi kita sangat bersyukur ketika sudah mempunyai hasil TKA semuanya ya di seluruh jenjang apa yang harus kita lakukan," jelas Toni Toharudin.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memaparkan analisis awal terkait hasil ujian kompetensi tersebut. Pada sebuah acara di Kantor Kemendikdasmen Jakarta, Kamis (9/4/2026), ia menyebut perolehan nilai Matematika tingkat SMP sederajat tidak memperlihatkan perbedaan signifikan dibandingkan jenjang SMA setahun sebelumnya.
ÔÇ£Sudah diketahui harusnya yang dua hari ini, hasilnya tidak jauh-jauh beda dengan yang tes SMA. Matematikanya akan segitu,ÔÇØ kata Abdul Mu'ti.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas literasi dan numerasi nasional masih menghadapi tantangan besar. Abdul Mu'ti menilai metode pengajaran sains formal perlu diubah agar mata pelajaran tersebut tidak lagi dianggap menakutkan oleh peserta didik.
ÔÇ£Pendekatan belajar menjadi penting. Belajar, terutama mendasarkan kemampuan untuk membaca dan menulis,ÔÇØ ujar Abdul Mu'ti.
Ia juga menambahkan bahwa pola pengajaran pada fase perkembangan awal anak semestinya disesuaikan dengan porsi usianya tanpa beban materi yang terlalu berat. Fokus utama untuk anak usia dini harus diletakkan pada fondasi penalaran mendasar melalui aktivitas yang interaktif.
ÔÇ£Padahal masa-masa awal-awal itu yang penting ditekankan adalah logika-nya. Karena logika-nya sehingga (pembelajaran) hanya main-main saja,ÔÇØ ungkap Abdul Mu'ti.
Pola pembelajaran yang dipaksakan sejak dini dinilai berisiko memicu hambatan psikologis jangka panjang bagi siswa. Akibatnya, penolakan terhadap materi pelajaran yang rumit berpotensi terus terbawa hingga ke jenjang pendidikan selanjutnya.
ÔÇ£Kesulitan yang mereka hadapi ketika belajar matematika (jika pelajarannya langsung berat-berat) di masa awal itu akan terus terbawa,ÔÇØ jelas Abdul Mu'ti.