Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong sektor waralaba sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan rasio kewirausahaan nasional dan membantu UMKM naik kelas. Langkah ini dipaparkan pada Jumat (5/8/2026) sebagai upaya mengejar target minimal 10 hingga 12 persen pengusaha guna mencapai status negara maju.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan bahwa saat ini rasio kewirausahaan di Indonesia baru menyentuh angka 3,29 persen dari total angkatan kerja. Model bisnis waralaba dinilai potensial karena memiliki standarisasi yang jelas dan risiko yang lebih terukur bagi pelaku usaha baru.
ÔÇ£Waralaba merupakan model bisnis yang efektif untuk mempercepat lahirnya wirausaha baru karena bersifat terstandarisasi dan mudah diprediksi. Kementerian Perdagangan berkomitmen penuh dalam mendukung perkembangan kewirausahaan nasional,ÔÇØ ujar Roro, dilansir dari Ekonomi.
Roro menjelaskan bahwa fleksibilitas model bisnis ini memungkinkan berbagai elemen masyarakat untuk terlibat aktif secara produktif. Sektor ini dianggap inklusif bagi generasi muda, ibu rumah tangga, hingga para pensiunan yang ingin memulai usaha.
ÔÇ£Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap cermat dan bijak dalam memilih penawaran bisnis dengan menggunakan prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis. Kami berharap masyarakat tidak mudah tergiur oleh janji keuntungan tetap yang tidak masuk akal atau klaim bebas risiko,ÔÇØ tambahnya.
Kemendag juga memberikan penekanan khusus pada aspek legalitas agar ekosistem bisnis tetap sehat dan berkelanjutan bagi semua pihak. Para pelaku usaha diingatkan untuk mengantongi Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) sebelum melakukan promosi komersial di berbagai platform media.
Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit menyatakan bahwa kepercayaan publik terhadap industri ini tetap kuat meskipun sempat terdampak krisis kesehatan global beberapa waktu lalu.
ÔÇ£Industri waralaba kita mencatatkan total omzet mencapai Rp143,25 triliun sepanjang tahun 2024 dengan penyerapan tenaga kerja yang mencapai 98.000 orang. Angka tersebut membuktikan daya tahan sektor ini di tengah dinamika pasar,ÔÇØ ujar Levita.
Meskipun performa finansial menunjukkan tren positif, sektor ini masih dihadapkan pada kendala operasional yang bersifat struktural. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pengembangan Ekspor Kadin Juan Permata Adoe menyoroti beban biaya logistik yang masih tinggi sehingga menekan daya saing pelaku usaha nasional.
ÔÇ£Kita membutuhkan kebijakan yang benar-benar sinkron antarinstansi pemerintah agar hambatan di lapangan dapat terurai secara efektif,ÔÇØ tegas Juan.
Integrasi kebijakan antarlembaga diharapkan mampu memberikan kepastian usaha bagi UMKM lokal untuk melakukan eskalasi bisnis secara berkelanjutan. Hal ini diproyeksikan akan memperkuat kontribusi sektor perdagangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di masa mendatang.