Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo menambah jumlah tenaga juru sembelih halal melalui pelatihan massal yang diikuti sekitar 200 peserta di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari pada Kamis, guna mempersiapkan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Langkah ini diambil untuk menjamin standar kesehatan dan kepatuhan syariat Islam pada proses pemotongan hewan kurban mendatang.
Penguatan kapasitas tenaga ahli ini dilatarbelakangi oleh minimnya jumlah juru sembelih bersertifikat di wilayah Ponorogo dibandingkan dengan jumlah lokasi penyembelihan. Sebagaimana dilansir dari Cahaya, saat ini ketersediaan tenaga profesional tersebut belum mencukupi kebutuhan seluruh masjid dan mushalla di daerah tersebut.
Pelaksana tugas Kepala Kantor Kemenag Ponorogo, M. Tohari, menegaskan bahwa sebaran tenaga ahli masih menjadi tantangan utama dalam melayani seluruh tempat ibadah secara bersamaan.
"Kalau satu masjid atau mushalla menyembelih satu hewan saja, jumlah Juleha kita masih kurang untuk disebar," kata M. Tohari, Pelaksana tugas Kepala Kantor Kemenag Ponorogo.
Permintaan akan tenaga penyembelih halal dilaporkan terus meningkat seiring tingginya antusiasme masyarakat dalam melaksanakan kurban di lingkungan masing-masing. Berdasarkan data Kemenag, terdapat potensi penyembelihan di 2.379 masjid dan 3.613 mushalla yang tersebar di wilayah Ponorogo.
Tohari menjelaskan bahwa kepastian aspek kehalalan merupakan prioritas utama yang harus dijamin oleh pihak penyelenggara kurban bagi para penerima manfaat.
"Salah satunya terkait kehalalan. Daging yang dibagikan ke masyarakat harus benar-benar terjamin kehalalannya," ujar M. Tohari, Pelaksana tugas Kepala Kantor Kemenag Ponorogo.
Para peserta pelatihan tidak hanya dibekali dengan aspek religius, tetapi juga keterampilan teknis dalam menangani hewan sebelum proses pemotongan dilakukan. Hal ini mencakup metode pengendalian agar hewan kurban tidak melarikan diri atau membahayakan petugas dan warga sekitar.
Pelaksana tugas Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menekankan pentingnya penguasaan teknik pengendalian fisik hewan untuk menghindari insiden yang tidak diinginkan di lokasi penyembelihan.
"Kami tidak ingin ada hewan kurban yang kabur, lalu melukai warga saat penyembelihan. Karena itu, para Juleha juga dibekali teknik pengendalian hewan," kata Lisdyarita, Pelaksana tugas Bupati Ponorogo.