Kemenag DKI Jakarta Gagal Pantau Hilal Iduladha 2026 Akibat Cuaca

Kemenag DKI Jakarta Gagal Pantau Hilal Iduladha 2026 Akibat Cuaca
Foto: Ilustrasi Kemenag DKI Jakarta Gagal Pantau Hilal Iduladha 2026 Akibat Cuaca.

Tim Rukyatul Hilal Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta gagal melihat hilal penentu awal Zulhijah 1447 Hijriah atau Iduladha 2026 dalam pemantauan di Jatinegara, Jakarta Timur, pada Minggu (17/5/2026) sore akibat kendala cuaca dan geografis kota.

Gagalnya pemantauan hilal di atas cakrawala Gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta ini dipengaruhi oleh polusi udara, polusi cahaya, serta terhalang oleh deretan gedung bertingkat, seperti dilansir dari Megapolitan.

Padahal, data Hisab Ephemeris (Hakiky) menunjukkan posisi hilal di Jakarta sebenarnya sudah cukup tinggi setelah terjadi ijtimak pada pukul 03:03:22 WIB dini hari dengan ketinggian mencapai 5 derajat lebih dan elongasi 9,51 derajat.

Secara teori astronomis kriteria baru MABIMS, posisi tersebut sudah melampaui batasan minimal tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat sehingga memiliki peluang besar untuk diamati.

Ketua Tim Kemasjidan, Hisab Rukyat, dan Bina Syariah Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Muhammad Reza menjelaskan bahwa faktor eksternal di lapangan menjadi penghambat utama visualisasi riil di langit Jakarta.

"Dari hasil pengamatan rukyatul hilal di Gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta, kami menyimpulkan bahwa hilal tidak terlihat. Hasil ini nanti akan langsung disampaikan kepada Menteri Agama untuk menjadi bahan rekomendasi Sidang Isbat penentuan 1 Zulhijah 1447 Hijriah," ujar Muhammad Reza, Ketua Tim Kemasjidan, Hisab Rukyat, dan Bina Syariah Kanwil Kemenag DKI Jakarta.

Kondisi alam dan lingkungan di sekitar lokasi pemantauan menjadi alasan utama hilal tidak dapat teramati oleh tim perukyat sore itu.

"Secara hitungan hisab, dengan posisi ketinggian hilal dan elongasi di DKI Jakarta sebenarnya berpeluang terlihat. Namun, hal itu sangat dipengaruhi beberapa faktor di sekitar pengamatan,ÔÇØ kata Muhammad Reza, Ketua Tim Kemasjidan, Hisab Rukyat, dan Bina Syariah Kanwil Kemenag DKI Jakarta.

Faktor penghalang fisik seperti gedung-gedung tinggi di ufuk barat Jakarta memblokir pandangan langsung meskipun tim sudah menggunakan teodolit dan teleskop standar internasional.

Pihak Kanwil Kemenag DKI Jakarta juga menyatakan bahwa wilayah pemantauan lain di Jakarta melaporkan hasil nihil yang sama, dan seluruh dokumen digitalnya langsung dikirim ke pusat.

"Untuk semua titik, hasil pelaporannya langsung disampaikan kepada Tim Hisab Rukyat Pusat. Kami hanya berkoordinasi tentang proses rukyatul hilal itu sendiri, lalu hasilnya langsung dilaporkan secara online agar cepat diakses," tutur Muhammad Reza, Ketua Tim Kemasjidan, Hisab Rukyat, dan Bina Syariah Kanwil Kemenag DKI Jakarta.

Oleh karena itu, hasil konkret dari lapangan di Jakarta ini akan digabungkan dengan ratusan titik rukyat lain di seluruh Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat nasional.

"Yang memiliki wewenang untuk memutuskan adalah Menteri Agama. Jakarta pada kesempatan ini menyampaikan hasil konkret dari lapangan bahwa hilal tidak terlihat," pungkas Muhammad Reza, Ketua Tim Kemasjidan, Hisab Rukyat, dan Bina Syariah Kanwil Kemenag DKI Jakarta.

Berdasarkan rincian Hisab Hakiky, matahari terbenam pukul 17:44:32 WIB di koordinat azimuth 289┬░ 23' 09", sedangkan bulan terbenam pukul 18:09:20 WIB di koordinat 297┬░ 04' 20".

Ketinggian hilal Hakiky saat matahari terbenam tercatat 05┬░ 27' 23" atau secara Mar'iy di posisi 05┬░ 01' 08", dengan sudut elongasi 09┬░ 30' 40" (9,51 derajat), umur hilal 14 jam 41 menit 10 detik, lama hilal di atas ufuk 24 menit 48 detik, serta fraksi cahaya tipis sebesar 0,77 persen di sebelah kanan atas matahari.

Artikel terkait

Rekomendasi