Keluarga muda di Indonesia kini mulai memanfaatkan fitur kantong digital untuk mengatasi masalah kebocoran keuangan rumah tangga akibat pencampuran dana kebutuhan harian dengan tabungan. Fenomena ini muncul sebagai solusi praktis bagi pasangan yang kesulitan menjaga kedisiplinan anggaran bulanan secara konvensional.
Dian, seorang ibu bekerja berusia 35 tahun, berbagi pengalamannya dalam mengelola keuangan keluarga yang sebelumnya sering mengalami kendala. Ia sempat mencoba menggunakan satu rekening tunggal maupun banyak rekening berbeda, namun keduanya dianggap kurang efektif karena biaya administrasi yang tinggi.
"Tantangan utamanya biasanya memastikan semua kebutuhan terpenuhi tanpa kebablasan, apalagi kalau pengeluaran lagi banyak," kata Dian kepada Kompas.com.
Setelah beralih ke fitur kantong digital dalam satu aplikasi perbankan, Dian merasa alur pengeluaran keluarganya menjadi lebih mudah dipantau dan dikontrol secara aman. Ia bahkan menggunakan fitur berbagi kantong untuk menabung biaya liburan bersama suaminya serta keperluan sosial lainnya.
"Jadi lebih kelihatan alurnya, uangnya dipakai ke mana aja, dan lebih gampang ngontrol pengeluaran," ucap Dian.
Keunggulan lain dari sistem ini adalah kemampuannya memfasilitasi kegiatan kelompok seperti arisan tanpa harus melakukan pertemuan tatap muka secara rutin. Kemudahan digital ini membantu koordinasi keuangan kolektif menjadi lebih transparan bagi semua pihak yang terlibat.
"Seru banget, bisa arisan sama teman. Dan waktunya pun tidak perlu ketemu lho, kocok arisannya langsung di fitur sharing itu," ungkap Dian antusias.
Terkait fenomena kebocoran anggaran ini, perencana keuangan Andi Nugroho memberikan analisisnya pada Senin (4/5/2026). Ia menilai masalah tersebut umumnya dipicu oleh kondisi penghasilan yang terlalu mepet dengan pengeluaran rumah tangga yang kompleks.
"Secara general kita bisa bilang karena penghasilannya lebih sedikit dibandingkan pengeluarannya, atau penghasilannya begitu ngepas dibandingkan dengan pengeluarannya," ungkap Andi kepada Kompas.com.
Andi menambahkan bahwa kebocoran sering kali berasal dari pos-pos kecil yang sulit diprediksi, seperti kebutuhan mendadak untuk anak atau biaya sosial kemasyarakatan. Hal ini wajar terjadi mengingat sumber pengeluaran individu yang sudah berkeluarga jauh lebih beragam daripada saat masih lajang.
"Ada kemungkinan kebocorannya di kebutuhan-kebutuhan anak seperti uang jajan anak, ataupun apabila ada kebutuhan pemeliharaan kesehatan yang mendadak, serta ada kemungkinan timbulnya biaya-biaya sosial dari masyarakat seperti banyaknya undangan pernikahan yang harus dihadiri, uang tali asih bila ada warga yang kedukaan," beber Andi.
Meskipun tantangan finansial tersebut nyata, Andi menekankan bahwa sistem pengelolaan keuangan setiap keluarga tidak dapat disamaratakan. Konsistensi dalam menjalankan pola yang disepakati bersama pasangan menjadi kunci utama keberhasilan manajemen finansial.
"Ada yang sistemnya semua kebutuhan keluarga dicover dari penghasilan suami, lalu penghasilan istri difokuskan untuk ditabung dan diinvestasikan. Mana yang dipilih, tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga tersebut masing-masing," ucap Andi.
Senada dengan hal tersebut, Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago, Michael Hartawan, memberikan penjelasan tambahan pada Selasa (5/5/2026). Dilansir dari Money, ia menyebut masalah utama bukan pada kemampuan menyimpan uang, melainkan pada tata kelola yang tidak terarah.
"Akibatnya, dana kebutuhan harian tercampur dengan tabungan, rencana jangka panjang sering terpakai, dan akhirnya tujuan finansial jadi tidak tercapai," ungkap Michael kepada Kompas.com.
Data internal menunjukkan tren positif penggunaan alat bantu digital, di mana hingga Maret 2026 tercatat ada 43,2 juta kantong yang digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi. Rata-rata nasabah memisahkan dana mereka ke dalam tiga kantong khusus untuk keperluan harian, tagihan, hingga dana musiman.
"Jadi bukan karena tabungan biasa tidak cukup, tapi karena kebutuhan nasabah sudah berkembang. Mereka butuh tools yang tidak hanya bisa menyimpan uang, tapi juga membantu mengelolanya secara lebih terarah dan relevan dengan gaya hidup digital," jelas Michael.
Pemisahan dana yang terstruktur dinilai membuat proses penganggaran menjadi lebih mudah dijalankan secara konsisten oleh masyarakat luas. Fitur kolaboratif juga memungkinkan transparansi penuh bagi pasangan atau kelompok dalam mencapai tujuan finansial bersama.
"Setiap pihak bisa melihat, menggunakan, dan berkontribusi sesuai kesepakatan yang dibuat," tutur Michael.