Kemampuan mengelola emosi dan membaca situasi lingkungan sekitar menjadi faktor krusial bagi pengemudi untuk menghindari konflik di jalan raya pada Selasa (21/4/2026). Penguasaan aspek non-teknis ini dinilai lebih penting daripada sekadar memenangkan ego saat menghadapi situasi provokatif di lalu lintas.
Pengabaian terhadap pengendalian diri sering kali memicu adu mulut akibat hal sepele seperti pemotongan jalur atau suara klakson. Dilansir dari Otomotif, menjaga keselamatan merupakan prioritas utama yang harus didahulukan dibandingkan keinginan untuk merasa benar di depan pengemudi lain.
Penegasan mengenai pentingnya aspek mental dalam berkendara disampaikan oleh Training Director The Real Driving Centre (RDC), Marcell Kurniawan. Ia menyebutkan bahwa mengemudi bukan hanya tentang keterampilan teknis di balik kemudi.
"Dalam defensive driving, kita diajarkan untuk tidak reaktif. Jangan semua hal di jalan dianggap sebagai serangan pribadi, karena itu yang sering memicu konflik," kata Marcell Kurniawan, Training Director The Real Driving Centre (RDC).
Langkah preventif dapat dilakukan dengan mempersepsikan risiko sejak dini dan menjaga jarak aman antar kendaraan. Marcell menekankan perlunya pengemudi melakukan pengecekan kondisi sekeliling secara menyeluruh untuk mengantisipasi gerakan tidak terduga dari pengguna jalan lainnya.
Sikap mengalah dipandang sebagai strategi cerdas untuk meminimalisir risiko kecelakaan besar, terutama saat berhadapan dengan individu yang berkendara secara agresif.
"Kalau ada pengemudi yang terlihat membahayakan, lebih baik kita mengalah dan beri ruang. Tujuan utama kita kan sampai dengan selamat, bukan membuktikan siapa yang benar di jalan," ujar Marcell Kurniawan, Training Director The Real Driving Centre (RDC).
Penerapan respon rasional ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan berkendara yang lebih aman bagi seluruh masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, pengemudi tidak hanya melindungi diri sendiri tetapi juga berkontribusi pada ketertiban lalu lintas secara umum.