Operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Nusa Tenggara Timur terhenti sementara akibat kelangkaan pasokan gas elpiji 12 kg. Kondisi ini mulai terjadi sejak Jumat, 8 Mei 2026, dan berdampak langsung pada penyediaan makanan bagi masyarakat, dilansir dari Detik Finance.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Dadang Hendrayudha, mengonfirmasi bahwa kendala distribusi energi ini melanda beberapa titik krusial. Wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten Manggarai, Timor Tengah Utara (TTU), Kota Kupang, Kabupaten Belu, hingga Kabupaten Sumba Barat.
"SPPG berhenti operasional sementara disebabkan kelangkaan gas di beberapa wilayah Provinsi NTT. Penghentian berlangsung bertahap sejak 8 Mei 2026," ujar Dadang Hendrayudha, Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN).
Proses penghentian aktivitas produksi makanan di Manggarai menjadi titik awal krisis pada 8 Mei lalu. Keterbatasan stok bahan bakar membuat dapur produksi tidak mampu memenuhi standar operasional harian untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Masalah ini kemudian meluas secara signifikan pada periode 11 hingga 12 Mei 2026 ke daerah-daerah lain di sekitarnya. Sebagian besar fasilitas SPPG di NTT bergantung sepenuhnya pada tabung elpiji 12 kg sebagai sumber energi utama untuk memasak dalam skala besar.
"Kelangkaan gas elpiji 12 kg memengaruhi operasional SPPG di lapangan sehingga beberapa layanan belum dapat berjalan normal sampai pasokan kembali tersedia," tutur Dadang Hendrayudha, Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN).
Pihak Badan Gizi Nasional segera melakukan langkah strategis dengan menghubungi manajemen puncak Pertamina untuk mengatasi hambatan tersebut. Koordinasi ini bertujuan mempercepat distribusi tabung gas ke lokasi-lokasi yang mengalami kekosongan stok paling parah.
"Alhamdulillah, setelah saya lapor ke Grup BOC-BOD Pertamina Holding, Pak Dirut SHD langsung turun tangan. SPPG yang kehabisan gas untuk segera membeli ke pangkalan," kata Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Sebagai respon cepat, PT Pertamina (Persero) melalui Sub Holding Downstream (SHD) langsung menaruh prioritas utama pada pemenuhan kebutuhan energi di NTT. Pengiriman ratusan tabung dilakukan seketika guna menghidupkan kembali operasional dapur yang sempat mati suri.
"Hari ini kami prioritaskan ke SPPG. Tadi sudah kontak PIC di NTT, 220 tabung hari ini dikirim ke wilayah Kefamenanu dan Belu, serta 200 tabung untuk SPPG di Kota Kupang dan kabupaten," jelas Mars Ega Legowo Putra, Direktur Utama Sub Holding Downstream (SHD) Pertamina.
Manajemen Pertamina memastikan bahwa pengawasan distribusi akan terus dilakukan secara ketat di wilayah Sumba dan Manggarai. Fokus utama perusahaan adalah menjamin kelancaran rantai pasok agar target program pemenuhan gizi nasional tidak terkendala masalah teknis energi.
"Kami akan terus mengupayakan ketersediaan gas agar MBG tetap berjalan normal," ujar Mars Ega Legowo Putra, Direktur Utama Sub Holding Downstream (SHD) Pertamina.