Kelangkaan Bahan Baku Tekstil Mengancam Operasional Industri Pakaian

Kelangkaan Bahan Baku Tekstil Mengancam Operasional Industri Pakaian
Foto: Ilustrasi Kelangkaan Bahan Baku Tekstil Mengancam Operasional Industri Pakaian.

Pelaku industri pakaian jadi di Indonesia melaporkan gangguan aktivitas produksi akibat kelangkaan bahan baku kain tenun dan rajut di tengah permintaan pasar yang stabil. Fenomena ini memicu kekhawatiran stagnasi produksi yang lebih luas pada sektor hilir tekstil, Selasa (5/5/2025), dilansir dari Ekonomi.

Hambatan produksi ini tidak hanya dipicu oleh fluktuasi harga, melainkan juga keterbatasan ketersediaan pasokan fisik di pasar retail. Kondisi tersebut memaksa sejumlah pelaku usaha untuk menunda pemrosesan pesanan konsumen meskipun kesepakatan harga baru telah tercapai.

"Permintaan di pasar retail masih cukup lumayan, hanya saja produksi kami mulai bermasalah karena sulit mendapatkan kain tenun dan kain rajut. Bahkan ketika sudah disepakati kenaikan harga, pasokannya tetap tersendat," ungkap Muhammad Arif Nasution, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Kecil & Menengah Indonesia (AIKMI).

Kesulitan serupa juga dialami oleh para produsen perlengkapan bayi yang kesulitan memperoleh kain rajut jenis TC. Dampaknya, banyak pesanan pembelian atau purchase order yang tidak dapat segera diproduksi oleh pihak pabrik konveksi.

ÔÇ£PO kami tidak diproses karena pabrik rajutnya masih nunggu bahan baku dari pabrik benangÔÇØ ucap Rudy Irawan, Pengurus Perkumpulan Pengusaha Perlengkapan & Pakaian Bayi (P4B).

Sentra tekstil di wilayah Majalaya juga melaporkan dampak serupa, di mana kekurangan benang filamen jenis drawn textured yarn menyebabkan penghentian operasional sejumlah alat produksi. Minimnya stok benang di tingkat perajin membuat kapasitas produksi menurun drastis.

ÔÇ£Mesin-mesin tenun di Majalaya tambah banyak yang menganggur karena tidak ada bahan baku," tutur Deden Sudrajat, Ketua Umum Paguyuban IKM Konveksi Majalaya.

Keterbatasan stok di tingkat produsen benang poliester saat ini memang terjadi karena adanya prioritas penyaluran kepada segmen pelanggan tertentu. Pihak asosiasi produsen menyebutkan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas internal mereka.

ÔÇ£Jadi anggota kami hanya memasok customer-customer yang loyal saja," kata Farhan Aqil Syauqi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI).

Aqil menjelaskan bahwa meski bahan baku polimer seperti asam tereftalat masih tersedia, kapasitas operasional polimerisasi nasional menyusut dari 1,6 juta ton menjadi 800.000 ton dalam dua tahun terakhir. Penurunan ini menyusul penutupan empat fasilitas produksi besar di dalam negeri.

"Dan 800.000 ton ini dibagi sebagian untuk serat pendek [PSF] sebagai bahan baku benang pintal dan sebagian untuk benang filamen," tambah Farhan Aqil Syauqi.

Penurunan kapasitas produksi nasional dinilai berkaitan erat dengan absennya kebijakan perlindungan industri, seperti bea masuk antidumping (BMAD) bagi produk impor. Padahal, investigasi resmi telah membuktikan adanya praktik dumping yang merugikan produsen lokal.

"Maka di sini kian terlihat bahwa pemerintah yang lebih mementingkan poliester impor sama sekali tidak memiliki visi ketahanan industri karena dengan konflik di selat Hormuz ini poliester impor justru lebih mahal," jelas Farhan Aqil Syauqi.

Artikel terkait

Rekomendasi