Jejak Redup Kejayaan Tas Tanggulangin Pasca Bencana Lumpur Lapindo

Jejak Redup Kejayaan Tas Tanggulangin Pasca Bencana Lumpur Lapindo
Foto: Ilustrasi Jejak Redup Kejayaan Tas Tanggulangin Pasca Bencana Lumpur Lapindo.

Aroma kulit dan deru mesin jahit yang dahulu memenuhi udara di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, kini seolah meredup bersama waktu. Hampir dua dekade telah berlalu sejak semburan lumpur Lapindo pertama kali muncul di wilayah Porong, sebuah peristiwa yang bukan hanya mengubah lanskap geografi, namun juga menjadi titik awal kemunduran kawasan Industri Tas dan Koper (INTAKO) yang melegenda.

Sebelum petaka itu menyapa, Tanggulangin berdiri kokoh sebagai simbol supremasi kerajinan kulit di Jawa Timur. Wisatawan mancanegara dan lokal berbondong-bondong memadati ruko-ruko yang berjejer, mencari tas berkualitas tinggi dengan harga yang bersahabat. Namun, persepsi publik seringkali lebih tajam daripada kenyataan di lapangan.

Desa Kedensari, tempat bernaungnya Koperasi INTAKO, sebenarnya berjarak beberapa kilometer dari pusat semburan. Namun, nama besar Perumahan TAS (Tanggulangin Anggun Sejahtera) di Desa Kedungbendo yang tenggelam oleh luapan lumpur menciptakan kerancuan informasi. Banyak yang menyangka pusat industri tas tersebut telah habis tertelan bumi.

"Anggapan orang adalah Tanggulangin sudah habis, terendam lumpur. Saya mengundang wartawan untuk konferensi pers, menyatakan bahwa Tanggulangin masih eksis. Lumpur Lapindo kan sebelah timur Tanggulangin ini, di sana (yang terdampak luapan Lumpur Lapindo) juga pusat kerajinan, tetapi dompet. Yang paling banyak kan di sini," ujar M. Khozin, warga Desa Kedensari.

Upaya klarifikasi sempat membuahkan hasil dengan kembalinya denyut penjualan. Namun, kejayaan itu tidak pernah benar-benar pulih seperti sedia kala. Penurunan terjadi secara perlahan namun pasti, diperparah dengan munculnya sentra kerajinan serupa di wilayah lain.

Persaingan Model dan Serbuan Produk Impor

Tanggulangin sebenarnya memiliki keunggulan kompetitif dari sisi kualitas bahan kulit dan model jika dibandingkan dengan produsen asal Jawa Barat. Pengalaman bertahun-tahun dalam pameran nasional membuktikan bahwa produk lokal Sidoarjo ini masih mampu bersaing di kasta tertinggi.

"Setelah keluar (dari pengurusan koperasi INTAKO), saya ikut pameran bersama pemerintah provinsi Jawa Timur. Jadi, tahu persis ya, kemana-mana, seluruh Indonesia sudah pernah saya ikuti. Kalau pameran SKF (sepatu, kulit, dan fashion), wah perang Tanggulangin dengan daerah (produsen) di Jawa Barat. Tapi, khususnya tas kulit, Tanggulangin masih menang melawan Jawa Barat," tutur M. Khozin, yang pernah menjabat sebagai pengurus Koperasi INTAKO periode 2001-2007.

Namun, tantangan sesungguhnya datang dari luar batas negara. Masuknya produk impor asal China mengubah perilaku konsumen. Kualitas kulit yang tahan lama mulai tergeser oleh preferensi model yang cepat berganti dengan harga murah. Pandemi Covid-19 kemudian datang sebagai pukulan telak terakhir bagi sistem perdagangan konvensional di sana.

"Yang diuntungkan saat Covid-19 dan sampai sekarang ya pemain online. Kena imbasnya itu penjualan online, kan dulu enggak ada online, sekarang online itu murah-murah, barangnya datang sendiri ke rumah, enggak perlu ke lokasi," ujar M. Khozin.

Mengenang Masa Emas

Jauh sebelum angka penjualan merosot, Tanggulangin adalah magnet ekonomi yang luar biasa. Di awal tahun 2000-an, Koperasi INTAKO mampu mencatatkan omzet minimal Rp 100 juta pada hari Sabtu dan melonjak hingga Rp 150 juta pada hari Minggu. Sisa Hasil Usaha (SHU) dalam setahun bahkan bisa menembus angka miliaran rupiah.

Kenangan akan masa-masa indah tersebut juga terekam jelas dalam ingatan Munaim, warga Desa Kludan yang telah merantau ke Sidoarjo sejak 1974. Dari seorang pengrajin koper hingga beralih menjadi penjual tas wanita pada 1996, ia menyaksikan bagaimana orang-orang penting dari berbagai belahan dunia mencari produk Tanggulangin.

"Banyak tamu (pengunjung) mencari tas wanita, hampir setiap minggu itu banyak orang dari luar pulau, bahkan luar negeri ke sini. (Karyawan dari) perusahaan besar dari Jakarta, (turis dari) Filipina, Thailand, dan orang-orang penting semua ke sini," ucap Munaim.

Kini, Tanggulangin terus berjuang melawan zaman. Di antara bayang-bayang bencana masa lalu dan disrupsi digital masa kini, para pengrajinnya masih terus menjahit harapan agar industri tas yang telah membesarkan nama daerah mereka tidak benar-benar menjadi sejarah yang terlupakan.

Artikel terkait

Rekomendasi