Gugusan pulau buatan Ocean Flower Island di Laut China Selatan yang dirancang sebagai destinasi wisata dan hunian terbesar kini terbengkalai pada Jumat (17/4/2026). Proyek ambisius garapan pengembang Evergrande ini disebut gagal memenuhi target pembangunan setelah perusahaan terjerat krisis utang masif.
Dilansir dari Detik Travel, proyek yang awalnya diproyeksikan menelan anggaran sebesar 23 miliar dolar AS atau setara Rp386 triliun ini berhenti di tengah jalan. Saat ini, kawasan tersebut dijuluki sebagai kota mati karena banyaknya bangunan megah yang tidak difungsikan dan hanya menyisakan pondasi beton tak terpakai.
Kondisi di lapangan menunjukkan penurunan aktivitas yang signifikan dibandingkan visi awal pembangunan. Salah satu pengunjung memberikan gambaran mengenai suasana di lokasi yang kini tampak sepi dari aktivitas urban yang direncanakan.
"Tempat ini adalah zona mati," ujar Zhou Qingbin, salah seorang pengunjung dari kota pesisir Danzhou.
Data keuangan menunjukkan bahwa Evergrande baru menginvestasikan sekitar 12 miliar dolar AS yang sebagian besar berasal dari pinjaman. Ketidakmampuan perusahaan membayar utang lebih dari 300 miliar dolar AS menyebabkan kepercayaan publik terhadap sektor properti China runtuh dan penjualan rumah baru menyentuh titik terendah dalam 15 tahun.
Pemerintah Kota Danzhou telah mengambil alih pengelolaan pulau tersebut, namun harga properti di kawasan itu anjlok drastis. Banyak pemilik apartemen terancam kehilangan setengah dari nilai investasi mereka jika memutuskan untuk menjual aset saat ini.
"Banyak orang kehilangan uang mereka karena Evergrande, dan mereka marah," kata Li Yanbo, seorang agen properti di Ocean Flower Island.
Meski menghadapi kritik tajam, beberapa pihak menilai keberadaan fisik apartemen tersebut tetap menjadi aset bagi para pembeli yang sudah mendapatkan unitnya. Hal ini merujuk pada klaim Evergrande yang menyebut telah menyerahkan sekitar 60.000 unit apartemen kepada konsumen sebelum krisis memuncak.
"Banyak orang kehilangan uang mereka karena Evergrande, dan mereka marah," kata Li Yanbo, seorang agen properti di Ocean Flower Island.
Dampak dari kegagalan proyek ini juga merembet ke ranah hukum dengan penangkapan sejumlah pejabat tinggi yang terlibat dalam perizinan. Mantan Wali Kota Danzhou, Zhang Qi, dijatuhi hukuman seumur hidup, sementara mantan Gubernur Hainan, Luo Baoming, divonis 15 tahun penjara atas kasus suap terkait proyek tersebut.