Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada akhir April 2026 akibat kebijakan MSCI yang menahan aliran modal masuk, yang memicu potensi keluarnya dana asing hingga belasan triliun rupiah di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.
Kondisi pasar modal Indonesia yang tertekan ini dilansir dari Bisnis.com mencerminkan gabungan antara sentimen global serta dinamika domestik. Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG tercatat merosot 6,42% dalam sepekan terakhir dan telah melemah 17,81% sejak awal tahun 2026.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa keputusan MSCI tersebut membuka peluang terjadinya arus modal keluar atau outflow yang cukup besar dalam kurun waktu singkat.
"Dapen, asuransi, dan reksa dana domestik secara bertahap menyerap tekanan jual asing, terlihat dari nilai transaksi harian yang tetap di atas Rp15 triliunÔÇôRp18 triliun meski asing masih net sell. Namun kapasitas domestik terbatas," tutur Wafi, Senin (27/4/2026).
Wafi menambahkan bahwa situasi ini lebih merupakan penundaan momentum bagi pasar modal Indonesia karena proses reformasi kualitas pasar masih terus berjalan sebagai fondasi jangka panjang.
"Fokus emiten dengan free float bersih, likuiditas tinggi, dan fundamental kuat yang tidak terpengaruh dinamika indeks," tutur Wafi.
Ia juga menyoroti pentingnya mencermati jadwal tinjauan tengah tahunan MSCI pada 12 Mei mendatang yang akan menjadi penentu arah pergerakan pasar selanjutnya.
"Jika MSCI memberikan sinyal positif meski parsial, potensi relief rally cukup besar mengingat pasar sudah price-in skenario terburuk," ucap Wafi.
Ketua Perhimpunan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menilai tantangan pasar saat ini bersifat multifaktor, termasuk pengaruh dari pergerakan kurs rupiah yang menembus level Rp17.300 per dolar AS.
"Dampaknya cukup terasa terutama ke aliran dana asing. MSCI ini yang paling besar pengaruhnya karena menyangkut kepercayaan global, jadi inflow tertahan sementara outflow masih berjalan," ucap David, Senin (27/4/2026).
David mengamati bahwa investor lokal tetap menunjukkan keaktifan dalam menyerap aksi jual investor asing, terutama pada kelompok saham dengan kapitalisasi pasar besar.
"Ini yang membuat market kita masih relatif terjaga dan tidak jatuh terlalu dalam," ujarnya.
Mengenai langkah antisipasi bagi para pelaku pasar, David menyarankan pendekatan yang lebih hati-hati dengan mengutamakan kedisiplinan dalam mengelola portofolio investasi.
"Untuk strategi, saya rasa investor tidak perlu terlalu agresif dulu. Lebih baik wait and see sambil mulai akumulasi bertahap di saham yang fundamentalnya kuat dan likuid seperti perbankan besar, energi, atau yang punya dividen baik. Kuncinya sekarang disiplin dan tidak terburu-buru," kata David.
Pihak otoritas melalui Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyatakan bahwa MSCI sebenarnya telah memberikan pengakuan terhadap berbagai langkah perbaikan transparansi di pasar modal Indonesia.
"Seperti diketahui per Maret kemarin sudah kami tuntaskan semuanya, yang terkait transparansi kepemilikan saham di atas 1%, mereka juga konfirmasi akan mereka manfaatkan datanya," ucap Hasan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (27/4/2026).
OJK optimis bahwa perluasan klasifikasi jenis investor dan penerapan kerangka kerja baru terkait konsentrasi kepemilikan saham akan memberikan dampak positif pada indeks global.
"Nah di forum itu kami ingin kembali mendapatkan feedback dan respons mereka atas progres dan capaian yang sudah kami lakukan," ucap Hasan mengenai pembentukan investor advisory group.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut memberikan pandangan mengenai pentingnya integritas pasar untuk menarik investasi berskala besar di masa depan.
"Ke depan dengan reformasi pasar modal yang sudah disampaikan ini juga akan membuka integritas dan mendorong pasar modal menjadi mesin investasi yang skala besar. Ke depan diharapkan pasar modal bisa dipergunakan sebagai alat pencarian dana melalui intial public offering," ujar Airlangga.
Laporan dari MSCI pada Selasa (21/4/2026) menyebutkan pihaknya sedang mengevaluasi konsistensi sumber data terkait kebijakan free float 15% sebelum menentukan bobot indeks Indonesia lebih lanjut.
"MSCI sedang menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas sumber data serta langkah-langkah baru tersebut dalam konteks penentuan free float dan penilaian investabilitas secara lebih luas," tulis pengumuman MSCI tersebut.