Ekonom internasional Heiwai Tang mengingatkan Pemerintah Indonesia untuk merancang kebijakan industri yang seimbang guna mendorong produktivitas dan lapangan kerja di sektor kendaraan listrik pada Rabu (13/5/2026). Langkah ini menjadi krusial di tengah derasnya investasi merek otomotif global ke tanah air.
Indonesia saat ini sedang memperkuat ambisi sebagai pusat produksi kendaraan listrik dunia, bukan sekadar pasar konsumen. Dilansir dari Otomotif, strategi nasional mencakup pembangunan ekosistem baterai berbahan nikel hingga penarikan investasi dari pabrikan besar asal China.
Associate Vice President (Global) di The University of Hong Kong, Heiwai Tang, memberikan pandangan mengenai dampak jangka panjang kehadiran merek asing terhadap industri domestik. Ia menekankan perlunya keseimbangan antara efisiensi kerja dan penyerapan tenaga kerja.
"Saya pikir kebijakan industri seharusnya dirancang untuk menarik keseimbangan yang baik antara peningkatan produktivitas dan pekerjaan," ujar Prof Tang di Jakarta.
Pakar ekonomi tersebut juga menyoroti risiko dari penerapan regulasi yang terlalu tertutup bagi pasar nasional. Menurutnya, perlindungan berlebih justru dapat menjadi bumerang bagi kemajuan ekonomi dalam skala yang lebih luas.
"Jika kebijakan terlalu protektif, dalam jangka panjang itu bisa menciptakan pasar yang terlindungi bagi perusahaan lokal, tetapi sebenarnya buruk bagi produktivitas dan pembangunan ekonomi," kata Prof Tang.
Keterbukaan pasar terhadap perusahaan global dianggap sebagai instrumen utama untuk memastikan keberlanjutan pembangunan ekonomi. Hal ini memungkinkan terjadinya pertukaran ilmu dan keahlian teknis antara pelaku industri asing dengan tenaga kerja lokal.
"Cara paling berkelanjutan untuk pembangunan ekonomi jangka panjang adalah mempertahankan pasar terbuka, menarik perusahaan luar terbaik untuk datang, lalu mentransfer pengetahuan dan teknologi ke ekonomi lokal," ujarnya.
Peningkatan kualitas lapangan kerja dan produktivitas nasional sangat bergantung pada keberhasilan proses transfer teknologi tersebut. Indonesia dinilai memiliki posisi tawar kuat berkat cadangan nikel yang melimpah sebagai bahan baku utama komponen baterai.
Investasi nyata dari produsen seperti BYD, Chery, Geely, hingga GAC Aion kini telah memasuki tahap manufaktur dan perakitan di Indonesia. Pemerintah menghadapi tantangan untuk mengarahkan investasi tersebut agar turut memperkuat sektor riset, pengembangan sumber daya manusia, dan industri komponen lokal.