Kebijakan baru pemerintah terkait kewajiban ekspor komoditas sumber daya alam melalui satu pintu BUMN memicu kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan hingga minus 3,39 persen ke level 6.104 pada Kamis (21/5/2026).
Kondisi pasar saham yang terus memerah sejak 8 Mei 2026 ini meluas dengan tercatatnya 614 saham melemah, sementara hanya 82 saham yang menguat dan 63 saham lainnya stagnan, dilansir dari Investor Daily.
Lembaga analis Maybank Sekuritas menilai bahwa pembentukan BUMN khusus ekspor bernama PT Danantara Sumber Daya Indonesia ini berpotensi mengubah tata kelola ekspor komoditas secara nasional.
"Sementara sektor perbankan BUMN dinilai dapat diuntungkan dari perubahan alur transaksi ekspor," sebut Maybank Sekuritas.
Perubahan skema ini diperkirakan membuat emiten batu bara, CPO, dan ferro alloy kehilangan jalur pemasaran langsung sehingga berpotensi menekan margin serta dividen perusahaan.
Analisis dari Phintraco Sekuritas menambahkan bahwa pelaku pasar cenderung bersikap menunggu dan mengamati perkembangan dari kebijakan ekspor serta asumsi RAPBN 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto di DPR.
"Diperkirakan investor akan cenderung wait and see terlebih dulu menyikapi asumsi RAPBN 2027 dan kebijakan ekspor SDA tersebut," papar Phintraco Sekuritas.
Presiden mengumumkan target defisit anggaran 2027 sebesar 1,8%-2,4% dari PDB, dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,8%-6,5%, inflasi 1,5%-3,5%, nilai tukar rupiah Rp 16.800-17.500 per dolar AS, dan suku bunga SBN 10 tahun pada 6,5%-7,3%.
Tekanan pasar juga diperberat oleh langkah Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026, di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan angka 5%.
"Namun masih perlu dicermati efek kenaikan BI Rate ini terhadap pergerakan rupiah lebih lanjut, serta perlu diwaspadai dampak negatifnya terhadap sektor properti dan perusahaan yang banyak memiliki utang," papar Phintraco Sekuritas.
Kebijakan moneter tersebut diambil sebagai langkah perdana sejak April 2024 guna memperkuat stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi, meskipun pada hari yang sama rupiah tetap ditutup melemah 13 poin terhadap dolar AS setelah sempat menyentuh level Rp 17.667.