Insiden kebakaran hebat di sejumlah wilayah Jakarta dalam periode 2023 hingga 2026 telah mengakibatkan belasan warga meninggal dunia akibat terjebak api dan asap di pemukiman padat. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, rentetan peristiwa ini diduga kuat dipicu oleh arus pendek listrik dan kondisi bangunan yang sulit dijangkau evakuasi.
Tragedi terbaru melanda sebuah hunian di Jalan Agung Perkasa, Sunter Agung, Tanjung Priok pada Rabu (13/5/2026) dini hari yang menewaskan empat orang anggota keluarga. Kasiops Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Utara, Gatot Sulaeman, mengonfirmasi adanya korban terdampak psikis dalam kejadian tersebut.
"L (22) and E (27) mengalami shock. Dua-duanya perempuan," kata Gatot melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Rabu.
Api pertama kali terlihat muncul dari lantai dua sekitar pukul 04.00 WIB oleh warga sekitar sebelum akhirnya dilaporkan ke petugas pemadam pada pukul 05.50 WIB. Gatot menjelaskan bahwa upaya awal menggunakan alat pemadam api ringan tidak membuahkan hasil signifikan.
"Kemudian warga melaporkan kejadian tersebut ke security. Lalu security mendatangi lokasi untuk penanganan awal menggunakan APAR namun tidak berhasil," jelas Gatot.
Pengerahan sembilan unit armada pemadam berhasil melokalisir si jago merah pada pukul 05.25 WIB hingga pemadaman total tuntas satu jam kemudian. Gatot memberikan rincian mengenai penanganan personil di lokasi kejadian.
"Waktu terima berita 05.50 WIB. Pengerahan sembilan unit dan 45 personil," tutur dia.
Beralih ke Jakarta Pusat, sebuah kebakaran dahsyat melanda gedung PT Terra Drone di Kemayoran pada Selasa (9/12/2025) yang merenggut puluhan nyawa. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menegaskan angka kematian yang tercatat hingga sore hari tersebut.
"Jadi terkait dengan peristiwa kebakaran di Terra Drone ini saat ini sudah pukul 17.00 WIB. Terakhir angka korban adalah 22," jelas Susatyo dalam keterangannya, Selasa.
Korban yang terdiri dari 15 perempuan dan tujuh laki-laki tersebut langsung dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati. Pihak kepolisian segera berkoordinasi dengan tim laboratorium forensik untuk menyelidiki titik awal api.
"Nanti setelah semua rapi maka petugas kepolisian akan mulai melakukan olah tkp awal bersama labfor juga sudah hadir untuk mencari sebab dari kejadian kebakaran ini," tutur Susatyo.
Sebelum data final diverifikasi, pihak kepolisian sempat merilis jumlah kematian yang lebih rendah pada jam-jam awal setelah api padam. Susatyo memaparkan kondisi di lokasi saat proses evakuasi berlangsung.
"Saat ini yang sudah terlihat fisik korbannya adalah 20, per sekitar jam 16.00 WIB tadi," ujar Susatyo di lokasi kejadian.
Sementara itu, satu keluarga berjumlah lima orang ditemukan tewas di dalam rumah dua lantai di kawasan Grogol Petamburan pada Jumat (17/4/2026). Perwira Piket Sudin Gulkarmat Jakarta Barat, Abdul Syukur, menyatakan para korban kehilangan nyawa karena terkurung asap pekat.
"Kebakaran pukul 02.12 WIB dini hari, yang terbakar rumah tinggal. Korbannya lima orang, satu keluarga. Mereka terjebak asap," kata Abdul Syukur.
Kanit Reskrim Polsek Grogol Petamburan AKP Alexander Tengbunan menegaskan bahwa seluruh penghuni rumah tidak ada yang selamat dalam musibah tersebut. Penyelidikan awal menunjukkan adanya dugaan korsleting dari pengisian daya kendaraan listrik.
"Masih hubungan keluarga semua. Jadi yang meninggal itu satu keluarga di dalam, lima orang, enggak selamat. Semuanya meninggal dunia," kata Alexander.
Menurut kesaksian warga, terdengar suara dentuman keras dari kabel listrik sebelum kobaran api membumbung tinggi di bangunan itu. Alexander memaparkan langkah awal yang diambil saksi mata di tempat kejadian.
"Dia melihat kabel listriknya meledak, terus segera menghubungi Damkar dan Polsek," ujarnya.
Meskipun ditemukan indikasi pengisian daya sepeda listrik, kepolisian masih menunggu hasil resmi dari olah tempat kejadian perkara. Alexander memastikan area tersebut telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Sudah dilakukan olah TKP, sudah di-police line," kata Alexander.
Kejadian serupa juga pernah mengguncang wilayah Koja pada November 2023 yang menelan empat korban jiwa dari satu keluarga. Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Gidion Arif Setyawan menyebutkan bahwa dampak kebakaran mencakup lima bangunan hunian.
"Kejadiannya itu ada lima rumah yang terbakar. Korban yang (tewas) terbakar ditemukan dalam salah satu rumah," kata Gidion.
Menanggapi tren kebakaran ini, Kepala BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menyoroti kelalaian masyarakat terhadap standar keamanan listrik di lingkungan padat penduduk. Menurutnya, masalah perilaku penggunaan daya menjadi pemicu utama.
"Kebakaran di Ibu Kota masih didominasi masalah klasik yang kerap dijumpai di permukiman padat. Banyak warga masih mengabaikan instalasi dan penggunaan listrik sesuai ketentuan di rumah tangga," kata Isnawa.
Selain faktor teknis kelistrikan, struktur bangunan yang saling berhimpitan dinilai menjadi kendala besar saat proses penyelamatan. Isnawa menekankan pentingnya evaluasi tata ruang untuk menekan risiko fatalitas di masa depan.
"Kejadian ini saling berkesinambungan, menunjukkan beragam masalah permukiman di Jakarta, termasuk adanya korban jiwa karena struktur bangunan hunian yang buruk," ujarnya.