ÔÇ£Sementara sekarang investor global jauh lebih fokus pada kualitas fundamental, governance, likuiditas dan profitabilitas,ÔÇØ kata dia kepada Kontan akhir pekan lalu.
Reydi mengatakan kalau MSCI masih freeze, maka katalis saham konglomerat ke depan tidak bisa lagi hanya mengandalkan euforia indeks. Oleh karena itu, harus ada cerita baru yang bisa mendorong.
"Seperti energi baru terbarukan, data center, kecerdasan buatan, hilirisasi, ekosistem kendaraan listrik, dan ekspansi bisnis yang benar-benar menghasilkan laba," katanya.
Purbaya Beri Tenggat 6 Bulan untuk Dana WNI di Luar Negeri Masuk ke Indonesia
Pemerintah memberi tenggat waktu enam bulan bagi WNI yang menyimpan dana di luar negeri untuk membawa masuk dan melaporkannya ke dalam negeri.
Simak Prospek Bumi Resources (BUMI) Usai Labanya Meningkat
Hari Ini Pengumuman Rebalancing MSCI, OJK Sebut Dua Saham Berpotensi Ditendang
Menurutnya, saat ini investor lebih tertarik pada saham-saham bluechip konvensional karena valuasi yang tawarkan lebih murah dan secara fundamentalnya terbukti ketimbang saham konglomerat.
Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menjelaskan untuk saham-saham konglomerat tertentu yang sudah terkenal, hanya memerlukan pendorong sedikit dan harga saham bisa bergerak.
Namun, kata Parto, ada perubahan dari kondisi sebelumnya, yaitu free float dan konsentrasi kepemilikan tinggi. Saham konglomerat yang masih perlu memenuhi ketentuan free float kemungkinan akan menunggu sampai tercapai.
"Selain itu dengan bertambahnya free float akan relatif lebih sulit mengangkat harga sahamnya. Jadi saham konglomerat masih bisa, tetapi tidak signifikan seperti sebelumnya," jelasnya.
Menurut Parto, saham Indonesia masih sulit bangkit karena ragam industri yang relatif terbatas, seperti kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI), teknologi tinggi, bioteknologi hingga pertambangan rare earth.
"MSCI akan menunggu implementasi dari perubahan peraturan BEI dan OJK. Setelah MSCI disetujui, belum tentu akan diikuti oleh para manajer investasi mengingat bobot yang kecil dan risiko yang susah diduga," kata Parto.
Parto menilai SRO perlu menggencarkan edukasi investor domestik ritel dan institusi dengan memanfaatkan dana denda atau CSR untuk mempromosikan produk berisiko rendah seperti reksa dana, obligasi, dan ETF emas.