Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya 600 dugaan kasus Ebola dan 139 dugaan kematian akibat virus tersebut pada Rabu (20/5/2026), dilansir dari Internasional. Lonjakan jumlah ini diperkirakan terus terjadi karena virus telah menyebar sebelum wabah di Kongo dan Uganda terdeteksi resmi.
Komite Darurat WHO menggelar pertemuan pada Selasa lalu di Jenewa untuk membahas situasi tersebut. Kepala badan kesehatan global mengumumkan bahwa penyebaran virus dengan strain Bundibugyo yang langka ini masuk dalam kategori darurat kesehatan masyarakat internasional.
"WHO menilai risiko wabah ini tinggi di tingkat nasional dan regional, namun rendah di tingkat global," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Status darurat tersebut telah dinyatakan sejak akhir pekan lalu. Langkah darurat diambil secara langsung oleh kepala WHO tanpa konsultasi awal dengan para ahli akibat urgensi situasi di lapangan yang dinilai sangat mendesak.
"Prioritas mutlak kami saat ini adalah mengidentifikasi seluruh rantai penularan yang ada agar kami dapat menentukan skala wabah dan memberikan perawatan yang tepat," kata Chikwe Ihekweazu, Kepala unit darurat WHO.
Penyebaran ini memicu kekhawatiran karena telah berlangsung berminggu-minggu tanpa terdeteksi di wilayah padat penduduk. Kondisi diperparah oleh adanya konflik kekerasan bersenjata di area tersebut, yang juga pernah dilanda wabah strain Zaire pada 2018ÔÇô2020 dengan korban tewas mencapai hampir 2.300 orang.
Strain Bundibugyo diketahui menular lewat kontak langsung dengan cairan tubuh pasien atau hewan terinfeksi, dengan tingkat kematian rata-rata sekitar 40 persen menurut data resmi WHO. Sejauh ini, 51 kasus terkonfirmasi berada di provinsi Ituri dan North Kivu, Kongo, sementara Uganda melaporkan dua kasus di Kampala termasuk satu kematian.
Seorang pekerja asal Amerika Serikat di Kongo yang terinfeksi kini telah dipindahkan ke Jerman. Tim ahli WHO menduga infeksi pertama bermula pada 20 April, yang kemudian memicu peristiwa penyebaran masal di pemakaman dan fasilitas kesehatan sebelum akhirnya terdeteksi lewat laporan media sosial pada 5 Mei.
Tim investigasi gabungan pemerintah sementara dan WHO kemudian mengumpulkan sampel pada 12 Mei, dengan hasil delapan dari 13 sampel dinyatakan positif. Tedros menegaskan gejala awal yang mirip malaria dan kondisi konflik membuat deteksi awal strain langka ini menjadi sangat kompleks.
Keterlambatan deteksi juga memicu spekulasi adanya celah kesiapsiagaan akibat pemotongan dana oleh Amerika Serikat dan donor global. Saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk strain Bundibugyo, dan pengembangan dua kandidat vaksin diperkirakan membutuhkan waktu tiga hingga sembilan bulan melalui uji klinis.