VIDA Catat Kasus Deepfake di Asia Tenggara Melonjak 156 Persen

VIDA Catat Kasus Deepfake di Asia Tenggara Melonjak 156 Persen
Foto: Ilustrasi VIDA Catat Kasus Deepfake di Asia Tenggara Melonjak 156 Persen.

Perusahaan identitas digital VIDA melaporkan lonjakan drastis upaya penipuan berbasis deepfake di Asia Tenggara sebesar 156 persen pada Selasa (5/5/2026). Tren ini mempertegas ancaman siber yang semakin kompleks selain modus pencurian data melalui pesan singkat dan file APK berbahaya.

Berdasarkan data perusahaan tersebut, mayoritas kasus penipuan digital saat ini menyasar One Time Password (OTP). Dilansir dari Money, sebanyak 9 dari 10 kasus scam yang terjadi melibatkan upaya pencurian kode keamanan tersebut untuk menguasai akun korban.

Selain OTP, masyarakat juga diincar melalui tautan hadiah palsu yang menyerupai institusi perbankan serta pengiriman file APK. Modus terakhir seringkali disamarkan sebagai pembaruan status pengiriman paket yang berpotensi menginfeksi perangkat pengguna jika diunduh secara ceroboh.

Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur menjelaskan bahwa evolusi teknologi turut memicu perkembangan metode yang digunakan para pelaku kejahatan siber.

"VIDA mencatat bahwa upaya penipuan berbasis deepfake di Asia Tenggara melonjak 156 persen sepanjang 2025," kata Niki Luhur, Founder & Group CEO VIDA.

Ia menambahkan bahwa risiko serupa mengintai masyarakat saat mengurus dokumen penting. Penggunaan jalur tidak resmi dalam proses tanda tangan digital menjadi salah satu titik lemah yang sering dieksploitasi oleh pelaku penipuan.

"Karena itu, perlindungan identitas digital menjadi semakin penting untuk membantu menjaga setiap interaksi digital tetap aman," imbuh Niki Luhur, Founder & Group CEO VIDA.

Meski kesadaran dasar masyarakat Indonesia terhadap ancaman digital dinilai cukup baik, faktor psikologis seperti situasi mendesak atau tawaran menguntungkan seringkali melemahkan kewaspadaan individu secara instan.

ÔÇ£Ketika modus yang muncul terasa relevan, menarik, atau seolah menguntungkan, kewaspadaan bisa turun dalam hitungan detik. Karena itu, membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak, memeriksa ulang, dan tidak langsung percaya menjadi semakin penting di tengah berkembangnya modus penipuan yang semakin canggih,ÔÇØ ujar Niki Luhur, Founder & Group CEO VIDA.

Sebagai langkah edukasi, pihak VIDA meluncurkan konten video informatif bertajuk ÔÇ£The World of VIDAÔÇØ. Materi ini dirancang untuk menunjukkan cara kerja perlindungan identitas digital dalam mendukung berbagai aktivitas harian agar lebih mudah dipahami oleh publik.

ÔÇ£Melalui The World of VIDA, kami ingin mengangkat isu ini lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Harapannya, publik tidak melihat perlindungan digital sebagai sesuatu yang jauh atau rumit, melainkan sebagai hal yang relevan dengan aktivitas yang mereka lakukan setiap hari,ÔÇØ tutup Niki Luhur, Founder & Group CEO VIDA.

Data pendukung dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan skala ancaman ini secara nasional. Lembaga tersebut mencatat sebanyak 515.345 laporan kasus penipuan telah masuk sejak 22 November 2024 hingga 31 Maret 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi