Dua kapal tanker minyak asal Tiongkok akhirnya bergerak meninggalkan Selat Hormuz setelah tertahan di kawasan Teluk selama lebih dari dua bulan, dilansir dari Media Indonesia pada Kamis (21/5/2026). Pergerakan kapal berkapasitas besar ini terjadi di tengah klaim Amerika Serikat mengenai kesepakatan damai dengan Iran yang kian mendekati titik temu.
Data pelayaran dari LSEG dan Kpler menunjukkan supertanker Yuan Gui Yang yang berbendera Tiongkok dan Ocean Lily yang berbendera Hong Kong keluar dari jalur air tersebut dengan mengangkut sekitar 4 juta barel minyak mentah. Selain armada Tiongkok, satu kapal minyak mentah milik Korea Selatan dikonfirmasi turut melewati selat tersebut pada Rabu (20/5/2026) setelah situasi pelayaran mulai melonggar.
Keluarnya kapal-kapal tersebut bertepatan dengan pernyataan optimistis dari jajaran pimpinan Gedung Putih mengenai akhir ketegangan bersenjata dengan Iran. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan dalam pengarahan berita bahwa negosiasi diplomasi antara Teheran dan Washington saat ini berada dalam posisi yang cukup baik.
"Ada banyak proses bolak-balik, banyak kemajuan baik yang dicapai, tetapi kami akan terus mengupayakannya," ujar Vance mengenai perkembangan diplomasi tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberikan waktu dua hingga tiga hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dan sempat mengancam akan melakukan tindakan militer kembali. Sinyal positif dari Washington ini langsung memicu relaksasi pada pasar energi global dengan penurunan harga minyak mentah Brent ke level terendah US$110,16 per barel.
Kendati pasar merespons positif, pengamat energi memperingatkan bahwa harga komoditas ini berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek. Penurunan ketegangan tidak serta-merta mengembalikan volume pasokan minyak mentah dunia ke kondisi normal secara instan.
"Harga kemungkinan masih menunjukkan potensi kenaikan bahkan jika kesepakatan disimpulkan, mengingat pasokan kemungkinan tidak akan segera kembali ke tingkat sebelum perang," kata Emril Jamil, analis riset minyak senior di LSEG.
Blokade berkepanjangan di Selat Hormuz telah memberikan dampak rambatan yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi internasional. Lonjakan harga Brent yang sempat menyentuh titik tertinggi sejak Juni 2022 pada bulan lalu memaksa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memangkas perkiraan pertumbuhan global menjadi 2,5 persen tahun ini.
Melalui laporan World Economic Situation and Prospects terbaru, PBB memperingatkan bahwa tekanan ekonomi terbesar akibat lonjakan harga pangan dan energi ini harus ditanggung oleh keluarga berpenghasilan rendah di berbagai negara berkembang.