Alumni ITB Ungkap Kaitan Elektromagnetik dalam Kecelakaan Kereta Bekasi

Alumni ITB Ungkap Kaitan Elektromagnetik dalam Kecelakaan Kereta Bekasi
Foto: Ilustrasi Alumni ITB Ungkap Kaitan Elektromagnetik dalam Kecelakaan Kereta Bekasi.

Kecelakaan beruntun di Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan taksi listrik, KRL Commuter Line, dan KA Argo Bromo Anggrek menjadi perhatian pakar teknik. Dr. Ir. Adhi S. Soembagijo, alumni Teknik Mesin ITB angkatan 1989, menyoroti aspek elektromagnetik sebagai faktor pemicu insiden tersebut.

Dilansir dari Suara, peristiwa bermula ketika sebuah taksi listrik terhenti di perlintasan sebidang Bulak Kapal sebelum akhirnya tertemper KRL. Dampak kejadian ini membuat KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang harus berhenti di emplasemen Stasiun Bekasi Timur guna proses evakuasi.

Dalam posisi tersebut, rangkaian KRL kemudian ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi dari arah belakang sekitar pukul 20.52 WIB. Tabrakan hebat tersebut mengakibatkan kerusakan fatal pada gerbong belakang KRL serta menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.

Adhi menjelaskan bahwa kendaraan bermotor dan kereta api merupakan objek elektromagnetik karena proses pengubahan energi listrik menjadi energi gerak.

"Di dalam kedua kendaraan terdapat konversi energi listrik ke energi kinetik dan sebaliknya," tulis Adhi dalam unggahan Facebook.

Berbagai komponen aktif seperti motor listrik, generator, inverter, hingga stabilizer tegangan melepaskan medan magnet saat sedang bekerja. Medan magnet ini dapat terakumulasi serta menginduksi benda-benda yang berada di sekelilingnya.

Menurut analisis Adhi, rel kereta api memiliki peran sebagai penghantar medan elektromagnetik yang sangat besar karena sifatnya yang mudah terinduksi.

"Rel jadi seperti antena raksasa elektromagnetik yang menangkap dan menyebarkan induksi medan magnet," tulisnya menegaskan.

Kekuatan induksi pada area lintasan kereta tidak bersifat statis, melainkan fluktuatif yang dipengaruhi oleh jarak serta intensitas lalu lintas kereta yang lewat.

ÔÇ£Fluktuasi dipengaruhi posisi terhadap lokomotif, frekuensi perjalanan kereta, hingga kondisi cuaca di lintasan,ÔÇØ ungkap Adhi.

Fenomena mesin mati mendadak di atas rel dapat terjadi jika level elektromagnetik pada mobil tidak kompatibel dengan induksi tinggi dari rel kereta api.

ÔÇ£Ketidak-kompatibelan ini memicu lonjakan induksi yang menghasilkan emisi elektromagnetik di sekitar kendaraan,ÔÇØ tulisnya menjelaskan mekanisme.

Lonjakan emisi tersebut berisiko mengganggu kinerja sistem kontrol elektronik kendaraan, seperti Electronic Control Unit (ECU) pada mobil konvensional atau Vehicle Control Module (VCM) pada mobil listrik.

"Emisi ini mengganggu kerja ECU atau VCM sehingga fungsi kelistrikan terganggu dan mesin mobil bisa mati mendadak," jelasnya rinci.

Adhi memberikan peringatan bahwa kondisi mesin yang mati di tengah lintasan secara otomatis meningkatkan risiko kecelakaan fatal. Ia juga menyebutkan bahwa desain sistem palang pintu sebenarnya sudah memperhitungkan faktor keamanan terkait induksi tersebut.

"Waktu buka tutup pintu lintasan sudah diprogram berdasarkan jarak induksi aman yang dihitung secara matematis," tulisnya.

Direktur Eksekutif MECATA Foundation ini mengimbau seluruh pengguna jalan untuk mematuhi aturan di perlintasan sebidang demi keselamatan nyawa.

"Perhitungan matematis itu lebih berkuasa, makanya jangan dilanggar," tegas Adhi dalam bagian akhir tulisannya.

Artikel terkait

Rekomendasi