Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Institute melaporkan mayoritas pelaku usaha di Indonesia memilih langkah efisiensi biaya operasional sebagai strategi bertahan menghadapi tekanan geopolitik global pada kuartal pertama 2026. Data yang dilansir dari Money ini menunjukkan bahwa ketegangan internasional telah memicu lonjakan biaya produksi dan penurunan daya beli masyarakat.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menjelaskan bahwa konflik bersenjata di kawasan Asia Barat telah memberikan dampak domino terhadap stabilitas ekonomi domestik, terutama melalui jalur energi. Lonjakan harga bahan bakar minyak menjadi beban tambahan bagi struktur biaya perusahaan di tanah air.
"Tetapi juga masuk kepada kenaikan operasional atau operational expenditure (Opex), ya tetapi tidak dibarengi dengan kenaikan daya beli," kata Anindya dalam konferensi pers di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Anindya memaparkan bahwa sektor industri saat ini berada pada posisi dilematis antara memangkas pengeluaran atau tetap mengejar target pertumbuhan di tengah ketidakpastian. Namun, sebagian besar responden dari 210 perusahaan di 27 provinsi lebih condong pada opsi penghematan anggaran.
"Mereka ingin melakukan efisiensi untuk bertahan tetapi berubah secepat mungkin dari survival ke growth path lagi. Karena growth-lah yang bisa membuat kita bertahan dari penciptaan lapangan kerja," tutur Anindya.
Direktur Insight Kadin Institute Fakhrul Fulvian merinci bahwa sebanyak 33,9 persen perusahaan secara spesifik memfokuskan strategi pada penekanan biaya produksi dan distribusi. Langkah antisipatif ini diambil guna merespons dinamika di Timur Tengah yang mengancam rantai pasok global.
"Semuanya berpikir di melakukan efisiensi biaya operasional," ujar Fakhrul.
Data survei tersebut juga memperlihatkan keberagaman respons pelaku usaha lainnya, di mana 29,3 persen responden belum mengambil tindakan khusus. Faktor keterbatasan kapasitas adaptasi menjadi alasan utama perusahaan-perusahaan tersebut memilih untuk mengamati situasi terlebih dahulu.
"Strategi ini mencerminkan upaya mengurangi ketergantungan pada pasar atau pemasok tertentu guna meminimalkan risiko gangguan global," ucap Fakhrul.
Sebanyak 9,9 persen perusahaan mulai melakukan diversifikasi mitra dagang, sementara sisanya melakukan tinjauan kontrak dan mencari sumber bahan baku baru. Selain masalah efisiensi, 20,9 persen perusahaan mengeluhkan kenaikan harga komoditas yang menggerus margin keuntungan mereka secara signifikan.
"Sementara permintaan yang menurun mencerminkan melemahnya daya beli dan aktivitas perdagangan, baik domestik maupun global," tutur Fakhrul.
Fakhrul menambahkan bahwa 16,2 persen perusahaan juga terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang meningkatkan beban impor. Survei yang dilaksanakan pada 17 Maret hingga 5 April 2026 ini memiliki margin of error sebesar 9 persen dengan metode pengambilan sampel secara acak.