Paradigma pembangunan ekonomi global kini mulai mengalami pergeseran arah yang signifikan. Kemajuan sebuah negara tidak lagi hanya diukur melalui indikator konvensional seperti Produk Domestik Bruto (PDB), melainkan juga lewat kualitas kesejahteraan manusia atau human flourishing.
Perubahan indikator kemajuan ini terlihat dari posisi Indonesia yang berhasil menempati peringkat teratas dalam Global Flourishing Study. Dikutip dari Nasional, pencapaian tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi acuan baru dalam skala internasional.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Luar Negeri, Bernardino Moningka Vega, menilai hasil studi tersebut menegaskan potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia.
"Temuan ini menunjukkan potensi Indonesia dalam mengembangkan paradigma pembangunan ekonomi global yang berpusat pada manusia, di mana pertumbuhan ekonomi dilengkapi dengan makna budaya dan kesejahteraan sosial," ujar Bernardino dalam keterangannya seperti dikutip, Selasa (19/5/2026).
Pendekatan human flourishing sendiri berfokus pada pengukuran kesejahteraan yang menyeluruh. Hal ini mencakup kebahagiaan, kepuasan hidup, makna dan tujuan hidup, rasa syukur, harapan, kedermawanan, kualitas hubungan sosial, kesehatan, kepercayaan, serta partisipasi aktif masyarakat.
Bernardino, yang juga menjabat sebagai CEO PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), menyatakan bahwa pencapaian ini ditopang oleh modal sosial yang kuat. Nilai-nilai seperti Bhinneka Tunggal Ika dan semangat gotong royong terbukti masih hidup subur dalam keseharian masyarakat.
Kolaborasi akademis juga turut memperkuat posisi Indonesia di ranah global. Pendirian Indonesia, Australia Human Flourishing Center oleh Universitas Gadjah Mada dan Australian Catholic University menjadi langkah strategis untuk memperluas kontribusi dunia akademik dan industri.
Dari perspektif dunia usaha, perkembangan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital wajib diarahkan demi memperkuat kesejahteraan masyarakat secara merata.
"Pertanyaannya adalah bagaimana nilai seperti gotong royong bisa ditanamkan dalam ekonomi digital, sehingga teknologi seperti AI benar-benar mendorong pertumbuhan yang inklusif, terpercaya, dan merata," kata dia.
Sektor teknologi dan pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat saling melengkapi untuk menghadapi ketidakpastian global yang sedang terjadi. Indonesia memiliki momentum untuk membuktikan bahwa kemajuan finansial dan kesejahteraan sosial dapat berjalan beriringan jika berlandaskan inklusi.
ÔÇ£Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemimpin yang berkelanjutan dalam human flourishing; menunjukkan bahwa pertumbuhan, teknologi, dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan,ÔÇØ tutup Bernardino.