Pemerintah Jepang memperluas kerja sama pasokan minyak dan cadangan strategis dengan Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (11/5/2026) demi menghadapi ancaman gangguan distribusi energi di Selat Hormuz. Dilansir dari Money, Tokyo dilaporkan telah menyepakati pembelian 20 juta barel minyak mentah dari negara Teluk tersebut.
Kesepakatan strategis ini mencakup dimulainya pembicaraan peningkatan stok cadangan minyak bersama yang disimpan di wilayah Jepang. Langkah ini diambil setelah pertemuan tingkat menteri kedua negara merespons kenaikan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh angka 114,44 dollar AS per barel.
Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa memberikan konfirmasi bahwa UEA berkomitmen menambah volume cadangan yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan mereka di fasilitas penyimpanan Jepang.
"Kami ingin meningkatkan secara signifikan persediaan bersama dengan UEA," kata Akazawa kepada wartawan di Paris seusai kunjungan ke Timur Tengah.
Pejabat tinggi tersebut juga menjelaskan bahwa pihak UEA telah berjanji untuk mengisi kembali stok yang sebelumnya sempat dikeluarkan serta memperluas kapasitas penyimpanan di masa depan.
"UEA juga berjanji untuk mengisi kembali minyak mentah yang telah dikeluarkan sebelumnya serta memperluas volume cadangan di masa mendatang," tambah Akazawa.
Data dari Reuters menunjukkan kerentanan Jepang yang menggantungkan 95 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, di mana 40 persen di antaranya berasal dari UEA. Saat ini, total stok bersama Jepang dengan negara-negara produsen mencapai 13 juta barel dari total cadangan nasional yang setara 254 hari impor.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya telah mengambil kebijakan darurat pada April 2026 dengan merencanakan pelepasan cadangan tambahan setara 20 hari konsumsi mulai Mei 2026. Hal ini dilakukan karena penutupan Selat Hormuz telah memicu penurunan tajam impor minyak Asia ke level terendah dalam satu dekade terakhir.
Takaichi dalam sebuah pernyataan resmi menyoroti dampak luar biasa dari krisis rantai pasok global ini terhadap stabilitas ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.
"Tekanan pasokan minyak global telah memberikan dampak luar biasa terhadap kawasan Asia-Pasifik," kata Takaichi.
Saat ini, Jepang telah mengamankan jalur alternatif untuk sekitar 60 persen volume impor tahun lalu dari sumber yang tidak melewati Selat Hormuz guna memitigasi risiko blokade jalur pelayaran strategis tersebut.