Jepang kembali membeli minyak mentah dari Rusia untuk pertama kalinya pada Senin (4/5/2026) menyusul krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah. Langkah strategis ini diambil guna mengamankan pasokan energi domestik yang terganggu oleh blokade jalur pelayaran utama di Selat Hormuz.
Dilansir dari Ekonomi, pejabat Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang mengonfirmasi bahwa sebuah kapal tanker kini sedang menuju Jepang membawa minyak dari wilayah Timur Jauh Rusia. Pengiriman ini melibatkan proyek Sakhalin-2 yang dikelola oleh perusahaan negara Rusia, Gazprom, bersama pemangku kepentingan Jepang seperti Mitsubishi Corporation dan Mitsui & Co.
Perusahaan perdagangan energi Taiyo Oil Co. menjadi pihak yang membeli pengiriman minyak mentah tersebut. Minyak asal Rusia ini tetap dapat diimpor karena tidak termasuk dalam daftar sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat dan Eropa pasca perang Rusia-Ukraina pada 2022 lalu.
Data MarineTraffic menunjukkan kapal tanker tersebut telah meninggalkan Sakhalin pada akhir April dengan tujuan Prefektur Ehime di wilayah barat Jepang. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak 28 Februari 2026 menjadi pemicu utama Jepang mencari sumber energi alternatif setelah aliran seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia terhambat.
Selain Jepang, Indonesia turut melakukan langkah serupa dengan mendatangkan pasokan minyak dari Rusia demi menjaga ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah memprioritaskan ketersediaan bahan bakar minyak untuk kebutuhan industri dan masyarakat luas.
"Bagi saya yang paling penting adalah semua stok kita ada dan untuk [minyak mentah] Rusia sebentar lagi masuk ya," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pemerintah Indonesia menargetkan realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap. Proses pengadaan pasokan mentah ini direncanakan terus berlangsung hingga akhir tahun 2026 untuk mengantisipasi gejolak geopolitik global yang belum mereda.