Jamaah Haji Bergerak ke Muzdalifah untuk Mabit dan Ambil Kerikil

Jamaah Haji Bergerak ke Muzdalifah untuk Mabit dan Ambil Kerikil
Foto: Ilustrasi Jamaah Haji Bergerak ke Muzdalifah untuk Mabit dan Ambil Kerikil.

Jamaah haji mulai bergerak menuju Muzdalifah setelah menyelesaikan ibadah wukuf di Padang Arafah dalam rangkaian puncak haji. Pergerakan ini menandai fase berikutnya dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji.

Seperti dikutip dari Cahaya, jamaah melakukan aktivitas bermalam atau mabit sekaligus mengambil batu kerikil di Muzdalifah. Kerikil-kerikil tersebut dipersiapkan untuk prosesi melontar jumrah yang akan dilaksanakan di Mina.

Terkait pelaksanaan mabit, sebagian ulama berpendapat bahwa aktivitas ini dapat dilakukan meski hanya sebentar. Proses tersebut dapat ditempuh melalui skema murur atau sekadar melintas di kawasan Muzdalifah.

Muzdalifah bukan hanya menjadi tempat singgah sementara bagi para jamaah. Wilayah ini merupakan tempat mulia yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Kawasan Muzdalifah masuk ke dalam bagian dari MasyÔÇÖaril Haram. Wilayah ini merupakan pelataran yang dimuliakan oleh Allah SWT karena lokasinya berada di dalam kawasan Tanah Suci.

Kedudukan tempat agung ini ditegaskan secara langsung di dalam Al-Qur'an melalui firman Allah SWT:

┘ü┘ÄÏÑ┘ÉÏ░┘ÄϺ┘ô Ïú┘Ä┘ü┘ÄÏÂ┘ÆÏ¬┘Å┘à ┘à┘æ┘É┘å┘Æ Ï╣┘ÄÏ▒┘Ä┘ü┘Ä┘░Ϭ┘ì ┘ü┘Ä┘▒Ï░┘Æ┘â┘ÅÏ▒┘Å┘êϺ█ƒ ┘▒┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Ä Ï╣┘É┘åÏ»┘Ä ┘▒┘ä┘Æ┘à┘ÄÏ┤┘ÆÏ╣┘ÄÏ▒┘É ┘▒┘ä┘ÆÏ¡┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘à┘É

Artinya: "Maka apabila kamu telah bertolak dari ÔÇÿArafah, berdzikirlah kepada Allah di MasyÔÇÿaril Haram." (QS. Al-Baqarah: 198)

Melalui ayat tersebut, Muzdalifah dipahami memiliki nilai lebih dari sekadar lokasi transit setelah bertolak dari Arafah. Area ini menjadi ruang khusus bagi jamaah haji untuk menghidupkan malam dengan berdzikir dan bermunajat.

Asal-usul Nama dan Makna Filosofis

Ditinjau dari segi bahasa, kata Muzdalifah berakar dari makna al-izdilaf yang memiliki arti al-ijtimaÔÇÖ atau berkumpul. Atas dasar makna kebahasaan ini, Muzdalifah didefinisikan sebagai tempat pertemuan dan berkumpulnya manusia.

Terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan latar belakang penamaan tempat ini. Muzdalifah dinamakan demikian karena menjadi lokasi dipertemukannya kembali Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa ÔÇÿalaihimassalam setelah diturunkan ke bumi.

Di luar penafsiran filosofis sejarah tersebut, para ulama memberikan penjelasan mengenai esensi mabit. Momentum malam 10 Dzulhijjah di Muzdalifah merupakan waktu utama untuk menggiatkan doa setelah jamaah melewati puncak haji di Arafah.

Koreksi Cara Berdoa Masa Jahiliyyah

Sebuah riwayat menerangkan bahwa masyarakat Arab pada masa Jahiliyyah juga memanjatkan doa ketika berada di MasyÔÇÖaril Haram. Kendati demikian, fokus permohonan mereka hanya berputar pada urusan dan kepentingan duniawi semata.

Masyarakat Jahiliyyah kala itu berdoa meminta unta, kambing, harta, serta berbagai bentuk kemewahan hidup. Allah SWT kemudian menurunkan ayat Al-Qur'an untuk meluruskan dan mengoreksi cara pandang yang keliru tersebut.

Melalui teguran itu, seorang mukmin diajarkan untuk tidak hanya mengejar materi duniawi. Umat Islam diwajibkan untuk menyeimbangkan permohonan dengan meminta keselamatan di akhirat.

Kisah mengenai perilaku masa Jahiliyyah ini dibawakan oleh Imam Thabrani dalam kitab Ad-DuÔÇÖa:

┘ê┘Ä┘â┘ÄϺ┘å┘Ä Ïº┘ä┘å┘Ä┘æÏºÏ│┘Å ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏ¼┘ÄϺ┘ç┘É┘ä┘É┘è┘Ä┘æÏ®┘É ÏÑ┘ÉÏ░┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘é┘Ä┘ü┘Å┘êϺ Ï╣┘É┘å┘ÆÏ»┘Ä Ïº┘ä┘Æ┘à┘ÄÏ┤┘ÆÏ╣┘ÄÏ▒┘É Ïº┘ä┘ÆÏ¡┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘à┘É Ï»┘ÄÏ╣┘Ä┘ê┘ÆÏºÏî ┘ü┘Ä┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä Ïú┘ÄÏ¡┘ÄÏ»┘Å┘ç┘Å┘à┘Å: Ϻ┘ä┘ä┘Ä┘æ┘ç┘Å┘à┘Ä┘æ ϺÏ▒┘ÆÏ▓┘Å┘é┘Æ┘å┘É┘è ÏÑ┘ÉÏ¿┘É┘ä┘ïϺÏî Ϻ┘ä┘ä┘Ä┘æ┘ç┘Å┘à┘Ä┘æ ϺÏ▒┘ÆÏ▓┘Å┘é┘Æ┘å┘É┘è Ï║┘Ä┘å┘Ä┘à┘ïϺÏî ┘ü┘ÄÏú┘Ä┘å┘ÆÏ▓┘Ä┘ä┘Ä Ïº┘ä┘ä┘Ä┘æ┘ç┘Å Ï╣┘ÄÏ▓┘Ä┘æ ┘ê┘Äϼ┘Ä┘ä┘Ä┘æ: ┘ü┘Ä┘à┘É┘å┘Ä Ïº┘ä┘å┘Ä┘æÏºÏ│┘É ┘à┘Ä┘å┘Æ ┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å Ï▒┘ÄÏ¿┘Ä┘æ┘å┘ÄϺ ÏóϬ┘É┘å┘ÄϺ ┘ü┘É┘è Ϻ┘äÏ»┘Å┘æ┘å┘Æ┘è┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘ä┘Ä┘ç┘Å ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏóÏ«┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘É ┘à┘É┘å┘Æ Ï«┘Ä┘ä┘ÄϺ┘é┘ìÏî ┘ê┘Ä┘à┘É┘å┘Æ┘ç┘Å┘à┘Æ ┘à┘Ä┘å┘Æ ┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å Ï▒┘ÄÏ¿┘Ä┘æ┘å┘ÄϺ ÏóϬ┘É┘å┘ÄϺ ┘ü┘É┘è Ϻ┘äÏ»┘Å┘æ┘å┘Æ┘è┘ÄϺ Ï¡┘ÄÏ│┘Ä┘å┘ÄÏ®┘ï ┘ê┘Ä┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏóÏ«┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘É Ï¡┘ÄÏ│┘Ä┘å┘ÄÏ®┘ï ┘ê┘Ä┘é┘É┘å┘ÄϺ Ï╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘Ä Ïº┘ä┘å┘Ä┘æÏºÏ▒┘É

Artinya: "Dahulu manusia pada masa Jahiliyyah apabila berdiri di MasyÔÇÿaril Haram mereka berdoa. Salah seorang dari mereka berkata: ÔÇÿYa Allah, berilah aku unta, ya Allah, berilah aku kambing.ÔÇÖ Maka Allah menurunkan ayat: ÔÇÿDi antara manusia ada yang berdoa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,ÔÇÖ dan dia tidak memperoleh bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada yang berdoa: ÔÇÿYa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.ÔÇÖ" (Ad-DuÔÇÿa [Beirut: Dar al-Kutub al-ÔÇÿIlmiyyah], h. 275)

Doa-Doa yang Dianjurkan di Muzdalifah

Berdasarkan riwayat di atas, para ulama menganjurkan jamaah untuk melafalkan doa yang termaktub dalam ayat tersebut. Doa ini dinilai sangat utama karena merangkum permintaan kebaikan dunia dan akhirat dalam redaksi yang singkat.

Berikut adalah lafaz doa sapu jagat yang dianjurkan untuk dibaca oleh jamaah haji saat berada di Muzdalifah:

Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘Ä┘å┘ÄϺ ÏóϬ┘É┘å┘ÄϺ ┘ü┘É┘è Ϻ┘äÏ»┘æ┘Å┘å┘Æ┘è┘ÄϺ Ï¡┘ÄÏ│┘Ä┘å┘ÄÏ®┘ï ┘ê┘Ä┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏóÏ«┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘É Ï¡┘ÄÏ│┘Ä┘å┘ÄÏ®┘ï ┘ê┘Ä┘é┘É┘å┘ÄϺ Ï╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘Ä Ïº┘ä┘å┘æ┘ÄϺÏ▒┘É

Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka."

Cakupan doa ini tidak terbatas pada persoalan rezeki materi semata. Para mufassir memaparkan bahwa hasanah fid-dunya meliputi ilmu bermanfaat, ibadah yang diterima, keluarga saleh, kesehatan, rezeki halal, dan keberkahan hidup.

Sementara itu, makna hasanah fil-akhirah mencakup permohonan ampunan dari Allah SWT. Komponen ini juga meliputi kemudahan dalam proses hisab di akhirat serta anugerah surga yang abadi.

Doa Memohon Pertolongan dan Perlindungan

Selain doa kebaikan dunia akhirat, terdapat riwayat lain mengenai dzikir Rasulullah SAW pada Hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ÔÇÿanhu mengabarkan bahwa Nabi SAW membaca doa berikut:

┘è┘ÄϺ Ï¡┘Ä┘è┘Å┘æ ┘è┘ÄϺ ┘é┘Ä┘è┘Å┘æ┘ê┘à┘Å ┘ä┘ÄϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ç┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘æÏº Ïú┘Ä┘å┘ÆÏ¬┘ÄÏî Ï¿┘ÉÏ▒┘ÄÏ¡┘Æ┘à┘ÄϬ┘É┘â┘Ä Ïú┘ÄÏ│┘ÆÏ¬┘ÄÏ║┘É┘èϽ┘Å ┘ü┘ÄϺ┘â┘Æ┘ü┘É┘å┘É┘è Ï┤┘ÄÏú┘Æ┘å┘É┘è ┘â┘Å┘ä┘Ä┘æ┘ç┘ÅÏî ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘Ä┘â┘É┘ä┘Æ┘å┘É┘è ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë ┘å┘Ä┘ü┘ÆÏ│┘É┘è ÏÀ┘ÄÏ▒┘Æ┘ü┘ÄÏ®┘Ä Ï╣┘Ä┘è┘Æ┘å┘ì

Artinya: "Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk, tiada Tuhan selain Engkaw. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Maka cukupilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.'" (HR Thabrani)

Dalam teks riwayat lengkapnya, Nabi SAW melafalkan doa ini sewaktu berada di al-Qarn ats-TsaÔÇÖalib, sebuah lokasi di luar Muzdalifah. Kendati demikian, doa ini sangat kontekstual dan dapat diamalkan sewaktu jamaah berada di Muzdalifah.

Penerapan doa ini dinilai tepat karena waktu mabit di Muzdalifah masih berada dalam koridor momentum Hari Nahr. Doa tersebut merefleksikan puncak ketundukan serta penghambaan yang mutlak dari seorang manusia kepada Penciptanya.

Rasulullah SAW yang memiliki sifat ma'shum tetap memohon agar seluruh urusan hidupnya dicukupkan oleh Allah SWT. Beliau juga meminta agar tidak dilepaskan dari pengawasan Allah walau hanya sekejap mata.

Kandungan doa ini menjadi pengingat spiritual yang mendalam bagi seluruh jamaah haji. Kalimat-kalimat tersebut menegaskan bahwa setiap hamba senantiasa membutuhkan pertolongan dan perlindungan Allah SWT dalam setiap jengkal urusan.

Artikel terkait

Rekomendasi