Jakarta Siaga Banjir Rob Mei 2026 di Sembilan Wilayah Pesisir

Jakarta Siaga Banjir Rob Mei 2026 di Sembilan Wilayah Pesisir
Foto: Ilustrasi Jakarta Siaga Banjir Rob Mei 2026 di Sembilan Wilayah Pesisir.

Kawasan pesisir utara Jakarta berada dalam status siaga menghadapi potensi banjir rob yang diprediksi terjadi hingga penghujung Mei 2026. Seperti dilansir dari Megapolitan, fenomena kenaikan muka air laut ini diperkirakan akan melanda sejumlah titik vital di sepanjang garis pantai Jakarta.

Ancaman banjir pasang laut tersebut diproyeksikan muncul dalam dua gelombang waktu yang berbeda. Periode pertama diperkirakan terjadi antara 14 hingga 22 Mei, sementara fase kedua diprediksi berlangsung pada 28 sampai 31 Mei 2026.

Data pemodelan menunjukkan bahwa ketinggian pasang air laut dapat menyentuh angka 0,69 meter dari permukaan laut rata-rata atau mean sea level (MSL). Kondisi ini memerlukan kewaspadaan tinggi bagi warga yang tinggal di sekitar area terdampak.

Daftar wilayah yang memiliki potensi terkena dampak meliputi Tanjungan Kamal Muara, Muara Angke, Muara Baru, Pasar Inkan, serta kawasan Ancol Marina dan JIS. Selain itu, wilayah Tanjung Priok, Kali Baru, hingga Marunda juga masuk dalam zona pemetaan risiko.

Munculnya potensi banjir ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai variabel teknis di Teluk Jakarta. Faktor tersebut mencakup penurunan muka tanah, kenaikan level air laut global, elevasi pesisir, serta siklus pasang surut air laut yang rutin terjadi.

Situasi di lapangan tetap bersifat dinamis karena sangat bergantung pada keberadaan infrastruktur pengendali. Faktor non-pasang surut seperti gelombang tinggi akibat angin kencang atau potensi kebocoran tanggul juga turut menentukan tingkat keparahan genangan.

Langkah Mitigasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengaktifkan berbagai protokol mitigasi untuk menekan risiko kerugian bagi masyarakat pesisir. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh infrastruktur pengendali air berfungsi optimal selama periode siaga berlangsung.

Ika Agustin Ningrum, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, mengonfirmasi bahwa kesiapsiagaan kini dipusatkan pada pemantauan lapangan secara intensif. Langkah ini diambil untuk memastikan respon cepat jika terjadi luapan air laut ke permukiman.

ÔÇ£Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta melalui Suku Dinas SDA Jakarta Utara tetap melakukan penyiagaan dan pengoperasian pompa serta berbagai upaya antisipasi potensi banjir rob,ÔÇØ ujar Ika, Selasa (5/5/2026), dikutip dari situs resmi Pemprov DKI.

Sebanyak 171 unit pompa stasioner yang tersebar di 56 titik strategis Jakarta Utara telah disiagakan sepenuhnya. Selain itu, unit pompa mobile juga disiapkan untuk memberikan bantuan di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh sistem pompa tetap.

Beberapa infrastruktur kunci yang dioptimalkan kinerjanya meliputi Pintu Air Marina, Rumah Pompa Pluit, serta pompa di Ancol, Muara Angke, Pasar Ikan, dan Polder Kamal. Keberadaan sistem polder ini krusial dalam membuang air yang terjebak di area cekungan.

Dampak Penurunan Muka Tanah

Petugas dari Satgas SDA atau yang dikenal sebagai Pasukan Biru dikerahkan untuk melakukan observasi rutin di titik-titik rawan. Penjagaan ini bertujuan menjamin kondisi lapangan tetap terkendali meskipun beban air laut meningkat secara signifikan.

ÔÇ£Pasukan Biru ini juga dikerahkan untuk berjaga dan melakukan pemantauan rutin demi memastikan kondisi lapangan tetap terkendali,ÔÇØ kata Ika.

Ika menjelaskan bahwa penurunan muka tanah menjadi faktor pemicu utama yang membuat risiko banjir rob di Jakarta semakin kompleks. Area yang tanahnya turun menciptakan cekungan yang menghambat aliran air secara alami menuju laut.

ÔÇ£Dalam hal dampaknya terhadap lingkungan, penurunan tanah dapat memperluas daerah genangan banjir karena tidak berfungsinya saluran air akibat timbulnya daerah-daerah cekungan. Hal ini membuat sebuah wilayah menjadi lebih rentan banjir ketika hujan,ÔÇØ jelasnya.

Kondisi topografi yang rendah menyebabkan air tidak mungkin mengalir hanya mengandalkan gravitasi. Oleh karena itu, ketergantungan pada sistem pompa mekanis dan sistem polder menjadi mutlak diperlukan guna mengendalikan genangan di pesisir.

Selain masalah drainase, penurunan tanah juga mengancam integritas fisik bangunan di Jakarta Utara. Struktur bangunan dapat mengalami kemiringan hingga kerusakan serius pada akses jalan raya akibat pergeseran tanah yang terus berlangsung.

ÔÇ£Gedung ataupun bangunan dapat mengalami keretakan dan mengalami kemiringan, dan tidak optimalnya saluran air hingga kerusakan sarana jalan,ÔÇØ tambahnya.

Dinas SDA kini tengah mengembangkan sistem manajemen risiko jangka panjang melalui stasiun pemantauan penurunan tanah. Keberadaan stasiun ini berfungsi sebagai alat monitoring untuk memberikan data akurat terkait laju penurunan tanah di titik-titik kritis.

ÔÇ£Pemantauan dilakukan dengan dibangunnya stasiun pemantauan penurunan tanah. Selain monitoring, keberadaan stasiun pemantauan penurunan tanah ini juga sebagai manajemen risiko bencana penurunan tanah yang dapat menyebabkan banjir rob,ÔÇØ tandas Ika.

Pemerintah mengimbau warga di area pesisir untuk terus memantau kanal informasi resmi Pemprov DKI terkait perkembangan cuaca dan ketinggian pasang laut. Kewaspadaan masyarakat sangat diharapkan untuk meminimalkan dampak selama siklus pasang laut ini berlangsung.

Artikel terkait

Rekomendasi