Jababeka dan China Silk Road Group Dirikan Pusat Inovasi Kerja Sama

Jababeka dan China Silk Road Group Dirikan Pusat Inovasi Kerja Sama
Foto: Ilustrasi Jababeka dan China Silk Road Group Dirikan Pusat Inovasi Kerja Sama.

PT Jababeka Tbk (KIJA) atau Jababeka Group menjalin kerja sama strategis dengan China Silk Road Group Ltd dengan membentuk ChinaÔÇôIndonesia Innovation & Cooperation Center. Kolaborasi ini berfungsi sebagai platform kerja sama investasi, industri, dan perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok, seperti dikutip dari Investortrust.

China Silk Road Group Ltd merupakan grup multinasional yang aktif dalam jaringan Belt and Road Initiative (BRI). Strategi pembangunan global tersebut diprakarsai oleh pemerintah China sejak 2013 guna meningkatkan konektivitas dan kerja sama antarnegara.

Pembentukan pusat kerja sama ini ditandai melalui penandatanganan kemitraan strategis yang diharapkan menjadi jembatan utama dalam mendorong investasi dua arah, pengembangan industri, serta pertukaran peluang bisnis kedua negara.

Prosesi penandatanganan dilakukan oleh Founder and Chairman PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono, bersama Chairman China Silk Road Group Ltd, Lijin Yan. Agenda yang berlangsung di Menara Batavia, Jakarta Pusat, pada Kamis (23/04/2026) ini disaksikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok, Al Busyra Basnur, dan Vice President China Silk Road Group Ltd, Tang Yang.

Kehadiran pusat inovasi tersebut menjadi langkah nyata dalam menyediakan platform terintegrasi yang menghubungkan keperluan investasi lintas negara dengan kesiapan ekosistem industri domestik. Fasilitas ini akan beroperasi sebagai hub utama untuk memfasilitasi ekspansi korporasi Tiongkok ke Indonesia sekaligus mendorong komoditas unggulan lokal masuk ke pasar Tiongkok.

Melalui kemitraan ini, kedua perusahaan bakal mengoptimalkan kompetensi masing-masing. China Silk Road Group Ltd unggul dalam jaringan global, promosi investasi lintas negara, serta akses pasar Tiongkok.

Sementara itu, PT Jababeka Tbk memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam pengembangan kawasan industri, pengelolaan kawasan ekonomi khusus, integrasi kawasan industri dan perkotaan, serta jaringan kuat di tingkat pemerintahan dan bisnis di Indonesia.

Setyono Djuandi Darmono menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi strategis di kawasan Asia Tenggara.

"Kolaborasi ini bukan hanya tentang menarik investasi, tetapi juga membangun ekosistem industri yang berkelanjutan. Dengan adanya Innovation Center, kami ingin memastikan perusahaan yang masuk ke Indonesia mendapatkan dukungan yang komprehensif, dari perizinan, integrasi kawasan, hingga koneksi dengan rantai pasok lokal," ujar Darmono dalam konferensi pers di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Darmono menambahkan, inisiatif ini juga akan memberikan dampak positif bagi pelaku industri dalam negeri, khususnya dalam membuka akses pasar yang lebih luas ke Tiongkok.

"Di sisi lain, kami melihat peluang besar bagi produk-produk Indonesia untuk bisa menembus pasar global, khususnya Tiongkok. Ini menjadi bagian dari upaya menciptakan kerja sama yang seimbang dan saling menguntungkan," kata dia.

Lijin Yan menyebutkan, ChinaÔÇôIndonesia Innovation and Cooperation Center resmi diluncurkan sebagai inisiatif bersama antara China Silk Road Group dan Jababeka Group untuk memperkuat kerja sama ekonomi digital dan inovasi industri lintas negara.

"Kolaborasi kedua pihak yang saling melengkapi ini menjadi fondasi yang kokoh bagi pembangunan dan pengoperasian pusat kerja sama ini secara berkualitas," tutur dia.

Lijin Yan menjelaskan bahwa kemitraan ini terealisasi pada momentum strategis ketika hubungan Indonesia dan China memasuki fase emas pertumbuhan berkualitas tinggi, terutama pada potensi besar di sektor digital dan industri.

ChinaÔÇôIndonesia Innovation and Cooperation Center dinilai dapat menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan aspek teknologi, industri, dan pasar antara Tiongkok dan Indonesia.

"Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota kunci Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Indonesia memiliki kebutuhan besar sekaligus peluang luas dalam peningkatan industri dan transformasi digital," papar dia.

Tiongkok di sisi lain memegang keunggulan global dalam teknologi seperti kecerdasan buatan, robotika industri, dan teknologi digital. Hal ini dinilai Lijin Yan sebagai potensi komplementer yang besar dengan prospek cerah.

"Kedua negara memiliki potensi saling melengkapi yang sangat besar, dengan prospek kerja sama ekonomi digital yang menjanjikan," tandas dia.

Ke depan, kerja sama ini akan difokuskan pada tiga bidang utama, yaitu ekonomi digital, kecerdasan buatan, serta robotika dan manufaktur cerdas. Ruang lingkupnya mencakup sektor layanan kesehatan cerdas, pabrik pintar, manajemen energi minyak dan gas, kota pintar, pertanian modern, hingga keuangan digital.

"Kami berkomitmen pada pendekatan berbasis lokalisasi, mulai pembangunan, operasional, hingga pemberdayaan, agar teknologi dan inovasi Tiongkok dapat berakar di Indonesia, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Lijin Yan.

Artikel terkait

Rekomendasi