Pemerintah Iran kembali menutup jalur perdagangan Selat Hormuz pada Senin (20/4/2026) setelah sempat membukanya secara singkat pada pekan lalu. Keputusan ini diambil menyusul laporan adanya serangan terhadap sejumlah kapal komersial yang berupaya melintasi kawasan strategis tersebut.
Langkah penutupan kembali jalur krusial ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga komoditas global, terutama produk petrokimia yang menjadi bahan baku utama pembuatan plastik. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Money, gangguan pada jalur ini berdampak langsung pada rantai pasok industri di Indonesia.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa pasar saat ini telah memasuki fase ganti harga akibat terganggunya pasokan global dari Timur Tengah. Kenaikan harga bahan baku di tingkat hulu telah mencapai angka yang signifikan dalam waktu singkat.
"Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar 1.000 dollar AS per metrik ton, kini sudah naik hingga 1.800 dollar AS. Artinya kenaikannya hampir 80 persen," ujar Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas.
Fajar menambahkan bahwa dampak lonjakan ini sudah mulai dirasakan oleh masyarakat luas melalui kenaikan harga produk jadi. Para pedagang makanan dan pelaku UMKM mulai mengeluhkan kenaikan harga kemasan yang mencapai kisaran 40 hingga 80 persen.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa pembukaan jalur sebenarnya memberikan sentimen positif bagi produk petrokimia. Namun, pemulihan pasokan tersebut diprediksi tidak akan terjadi secara instan.
"Walaupun kelancarannya tidak langsung ya serta merta, mungkin ada leg waktu, jadi tidak bisa terlalu cepat pulih," ungkap Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia.
Faisal menegaskan bahwa kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz merupakan kunci utama bagi stabilisasi harga berbagai komoditas energi dan turunannya. Perbaikan rantai pasok petrokimia akan sangat memengaruhi biaya produksi plastik serta industri penerbangan.
"Yang jelas dengan pembukaan Selat Hormuz mestinya memberikan efek positif pada penurunan harga," terang Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia.
Menurutnya, sektor yang paling cepat merasakan dampak dari dinamika di selat tersebut adalah sektor minyak, gas, dan petrokimia. Ketiga sektor ini saling berkaitan erat dalam menentukan struktur biaya industri manufaktur.
"Yang akan kembali lebih lancar dengan pembukaan Selat Hormuz adalah lalu lintas minyak, gas, dan petrokimia," kata Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pembukaan jalur maritim memang bisa mengurangi tekanan pada harga minyak mentah. Namun, ia memperingatkan bahwa harga plastik dibentuk oleh rantai produksi yang jauh lebih kompleks.
"Masalahnya, dua risiko terakhir belum sepenuhnya pulih," ungkap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Syafruddin merujuk pada level harga feedstock yang masih tinggi serta serangan yang masih terjadi di pusat produksi petrokimia seperti Asaluyeh dan Marvdasht. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan stok dan memasukkan premi risiko ke dalam harga jual resin.
"Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar tetap akan membeli kepastian dengan harga tinggi, menahan stok, dan memasukkan premi risiko ke harga resin. Karena itu, pembukaan Hormuz lebih tepat dibaca sebagai sinyal meredanya tekanan, bukan sinyal otomatis turunnya harga plastik," ungkap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Ia juga menyoroti bahwa meredanya ketegangan di Selat Hormuz sempat menurunkan harga minyak dunia ke bawah 89 dollar AS per barrel. Hal ini sempat memberikan harapan bagi penurunan tekanan inflasi impor di Indonesia.
"Efek pertamanya memang positif, tekanan pada pasar energi mereda, harga minyak turun dari sekitar 95 dollar AS per barrel ke bawah 89 dollar AS per barrel, dan sentimen pasar global membaik," ujar Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Meski jalur sempat dibuka, Syafruddin mengingatkan bahwa fondasi perdagangan belum sepenuhnya normal. Ribuan pelaut dan ratusan kapal masih terdampak oleh situasi keamanan yang belum stabil di kawasan teluk.
"Bagi Indonesia, perkembangan ini penting karena biaya impor energi, biaya transportasi, dan tekanan inflasi impor bisa sedikit melunak bila penurunan harga itu bertahan," imbuh Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Risiko logistik dan premi keamanan tetap menjadi beban bagi ekonomi nasional selama konflik belum usai sepenuhnya. Ia menegaskan bahwa pembukaan jalur kemarin barulah langkah awal untuk menurunkan suhu krisis.
"Jadi, cara paling tepat memahami efek pembukaan Hormuz adalah ini, ia menurunkan suhu krisis, tetapi belum memulihkan fondasi pasokan dan perdagangan ke keadaan aman," terang Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Syafruddin memaparkan bahwa sektor industri makanan, minuman, hingga farmasi akan paling cepat merasakan dampak karena ketergantungan pada kemasan plastik. Tekanan biaya ini diprediksi akan terus berlanjut karena harga resin di pasar internasional masih berada di level tinggi.
"Sektor terdampak tidak langsung mencakup UMKM, perdagangan ritel, jasa distribusi, dan rumah tangga, karena kenaikan harga kemasan dan barang turunan pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual," ucap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Beban terberat akan dirasakan oleh rumah tangga berpendapatan rendah saat harga kebutuhan harian ikut melonjak. Hal ini menunjukkan bahwa krisis di Selat Hormuz memiliki dampak domino yang luas hingga ke biaya hidup masyarakat terkecil.
"Jadi, pembukaan Hormuz tidak hanya menyentuh sektor energi. Dampaknya menjalar ke struktur biaya industri dan biaya hidup masyarakat," ucap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Saat ini, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan selat akan tetap ditutup hingga blokade Amerika Serikat dicabut. Iran memberikan peringatan keras bahwa setiap kapal yang mendekati area tersebut akan dianggap sebagai target potensial.