Ipsos Ungkap Alasan Utama Masyarakat Pilih Bank Digital

Ipsos Ungkap Alasan Utama Masyarakat Pilih Bank Digital
Foto: Ilustrasi Ipsos Ungkap Alasan Utama Masyarakat Pilih Bank Digital.

Layanan perbankan digital kini bergeser menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk transaksi harian, seperti pengisian saldo dompet digital, pembayaran QRIS, hingga belanja daring.

Perubahan perilaku ini menandai pergeseran signifikan dalam manajemen aktivitas keuangan sehari-hari yang mengutamakan layanan praktis, cepat, dan terhubung dengan berbagai kebutuhan.

Dikutip dari Investortrust, Managing Director Ipsos Indonesia Hansal Savla menjelaskan bahwa pengguna saat ini semakin selektif dalam menentukan layanan keuangan digital.

"Hasil ini menunjukkan bahwa pengguna kini semakin selektif dalam memilih layanan keuangan digital. Tidak hanya dari sisi layanan keuangan, tetapi juga kemudahan dalam terhubung dengan berbagai kebutuhan bertransaksi sehari-hari menjadi faktor yang diprioritaskan," ujar Hansal dikutip Rabu (13/5/2026).

Data Bank Indonesia (BI) memperlihatkan volume transaksi pembayaran digital di Indonesia menembus angka 14,28 milar transaksi pada triwulan I 2026.

Lonjakan signifikan sebesar 116,45% secara tahunan terjadi pada berbagai kanal, yang meliputi mobile banking, internet banking, serta pembayaran melalui QRIS.

Infrastruktur sistem pembayaran ritel BI-Fast juga menunjukkan pertumbuhan kuat yang mencerminkan tingginya ekspektasi masyarakat terhadap interaksi keuangan yang efisien.

Survei Persepsi dan Kepuasan Pengguna terhadap Layanan Bank Digital di Indonesia 2026 yang digelar Ipsos Indonesia secara daring pada April 2026 mengonfirmasi tren ini.

Hasil studi mendapati bahwa aspek kemudahan dan kecepatan transaksi menjadi stimulus utama bagi 71% responden untuk memanfaatkan bank digital.

Sementara itu, ketersediaan fitur transaksi harian yang lengkap seperti pembayaran tagihan dan dukungan belanja daring menjadi pertimbangan krusial bagi 66% responden.

Menurut Hansal, keterikatan platform dengan ekosistem digital seperti e-commerce dan dompet digital menjadi penentu utama dalam mendorong adopsi layanan ini.

Peta Persaingan Layanan Bank Digital

Dalam mengukur tingkat kepuasan dan persepsi pengguna terhadap aplikasi perbankan digital, SeaBank mencatatkan keunggulan di beberapa kategori utama.

Pada aktivitas transfer, pembayaran, dan transaksi daring, SeaBank memimpin dengan raihan 52%, disusul Bank Jago sebesar 50%, Neobank 49%, Allo Bank 40%, dan Superbank 39%.

SeaBank juga menempati urutan teratas untuk kategori integrasi ekosistem digital dengan skor 50%, diikuti Bank Jago 46%, Superbank 43%, Neobank 36%, dan Allo Bank 26%.

Untuk keperluan pengisian saldo dompet digital, pengguna paling banyak memilih SeaBank dengan persentase 77%, disusul Bank Jago 70%, Superbank 66%, Neobank 65%, serta Allo Bank 57%.

Kategori belanja online kembali menempatkan SeaBank di posisi pertama dengan 69%, disusul Bank Jago 58%, Allo Bank 50%, Superbank 47%, dan Neobank 41%.

Hansal menilai capaian tersebut menegaskan krusialnya peran perbankan digital dalam mengakomodasi kebutuhan transaksi yang terikat dengan ekosistem digital luas.

"Integrasi dengan ekosistem digital menjadi salah satu faktor yang semakin relevan. Pengguna cenderung memilih layanan yang dapat mendukung berbagai aktivitas mereka secara praktis dan terhubung dengan mulus dalam satu platform," tambahnya.

Persaingan industri ini ke depan tidak lagi sekadar bertumpu pada fitur keuangan dasar, melainkan pada kapabilitas menciptakan pengalaman pengguna yang tanpa hambatan.

"Seiring berkembangnya ekspektasi pengguna, pemain bank digital diharapkan untuk tidak hanya menghadirkan layanan keuangan yang cepat dan mudah digunakan, tetapi juga mampu terintegrasi dengan berbagai aktivitas digital sehari-hari," katanya.

Survei Ipsos Indonesia ini mengikutsertakan 300 responden pengguna aktif bank digital di seluruh Indonesia dengan frekuensi pemakaian minimal satu kali per bulan.

Riset yang memanfaatkan panel digital perusahaan ini menjangkau responden pria dan wanita berusia 18 hingga 55 tahun di wilayah Jabodetabek, Jawa non-Jabodetabek, dan luar Jawa.

Artikel terkait

Rekomendasi