Sektor hulu migas nasional berupaya memperkuat ketahanan energi domestik melalui peningkatan produksi dalam negeri guna mengantisipasi kerentanan rantai pasok akibat gejolak geopolitik global. Langkah strategis ini dibahas dalam konferensi pers Road to IPA Convex 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (12/5/2026).
Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dinilai memerlukan mitigasi serius melalui percepatan eksplorasi dan kolaborasi antara pemerintah dengan pelaku industri. Sebagaimana dilansir dari Money, upaya penguatan produksi migas menjadi kunci utama agar pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika dunia.
"Situasi global saat ini menunjukkan rantai pasok energi sangat rentan terhadap gejolak geopolitik. Indonesia perlu mengantisipasi hal ini dengan memperkuat produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada impor," ujar Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA), Marjolijn Wajong.
Marjolijn menekankan bahwa peluang untuk menaikkan angka produksi masih terbuka karena lebih dari 50 persen cekungan migas di tanah air belum tersentuh eksplorasi. Namun, mayoritas potensi tersebut berada di wilayah laut dalam dan Indonesia Timur yang memerlukan investasi serta teknologi tinggi.
"Penemuan cadangan baru menjadi kunci. Tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang sudah berjalan," kata Marjolijn.
Pemerintah diharapkan mampu memberikan kepastian hukum dan skema fiskal yang kompetitif untuk menarik minat investor. Marjolijn menegaskan bahwa sektor hulu migas saat ini menghadapi tantangan besar terkait risiko eksplorasi yang tinggi.
"Diperlukan eksplorasi yang lebih agresif serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri," lanjut Marjolijn.
Ketua Panitia IPA Convex 2026, Teresita Listyani, menjelaskan bahwa ajang ke-50 ini menjadi forum strategis untuk merumuskan masa depan energi Indonesia. Acara yang mengusung tema kemitraan energi selama lima dekade tersebut dijadwalkan berlangsung pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD City.
"IPA Convex menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, hingga generasi muda dalam mendukung ketahanan energi nasional dan menciptakan iklim investasi yang semakin kompetitif," ujar Teresita.
Pameran ini akan melibatkan lebih dari 200 peserta eksibisi serta menyajikan ratusan presentasi teknis mengenai transisi energi dan teknologi migas. Teresita menargetkan platform ini dapat menghasilkan kesepakatan investasi yang nyata.
"Kami ingin IPA Convex menjadi platform yang menghasilkan kolaborasi nyata dan mendorong percepatan investasi, khususnya di sektor hulu migas Indonesia yang masih memiliki potensi sangat besar," kata Teresita.
Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dijadwalkan meresmikan pembukaan acara pada Rabu, 20 Mei 2026. Agenda pembukaan akan mencakup penandatanganan sejumlah kontrak strategis di sektor energi nasional.