Investor Pasar Modal Tembus 25 Juta Didominasi Generasi Muda

Investor Pasar Modal Tembus 25 Juta Didominasi Generasi Muda
Foto: Ilustrasi Investor Pasar Modal Tembus 25 Juta Didominasi Generasi Muda.

Jumlah investor pasar modal di Indonesia mencatatkan lonjakan besar hingga mencapai 25 juta investor per Maret 2026. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pertumbuhan ini mencerminkan kenaikan rata-rata sebesar 32,5% per tahun dari posisi tahun 2021 yang sebelumnya hanya berjumlah 7 juta investor.

Dikutip dari Investortrust, dominasi pasar modal kini bergeser secara signifikan ke investor individu yang menguasai 99,77% dari total keseluruhan. Dari segi demografi, kelompok usia di bawah 40 tahun yang mencakup generasi Z dan milenial mendominasi dengan porsi lebih dari 80%.

Direktur BNI Asset Management Ade Yusriansyah menilai kesadaran generasi muda Indonesia dalam mengelola keuangan dan berinvestasi terus merangkak naik selama dua hingga tiga dekade terakhir. Fenomena ini didorong oleh masifnya perkembangan teknologi serta kehadiran media sosial.

Akses informasi mengenai strategi membangun arus kas, penganggaran, hingga investasi kini semakin mudah didapatkan masyarakat melalui berbagai platform digital seperti YouTube dan Instagram. Hal ini menjadi katalis penting bagi peningkatan partisipasi pemuda di sektor keuangan.

ÔÇ£Kalau coba dipahami lebih dalam, apa pun jenis strategi pengelolaannya, ada satu kesamaannya, yaitu investasi,ÔÇØ ujar Ade dalam keterangannya dikutip Jumat (29/5/2026).

Menurut Ade, investasi pada dasarnya adalah penanaman modal atau uang demi mendatangkan keuntungan di masa depan. Kendati demikian, setiap individu wajib mempertimbangkan aspek risiko, tujuan finansial, serta kemampuan modal yang dimiliki.

Fase usia muda dipandang sebagai momentum paling strategis untuk menyusun fondasi finansial jangka panjang. Ade turut mengutip pandangan Morgan Housel dalam buku The Psychology of Money yang mencontohkan kesuksesan Warren Buffett, di mana salah satu kunci keberhasilannya adalah memulai investasi sejak usia dini.

ÔÇ£Para ekonom dan pakar keuangan menekankan bahwa usia muda adalah fase paling strategis untuk membangun fondasi finansial jangka panjang,ÔÇØ katanya.

ÔÇ£Dari angka tersebut, bisa disimpulkan bahwa sudah ada awareness dari generasi muda Indonesia terkait pengelolaan keuangannya,ÔÇØ ujar Ade.

Meskipun partisipasi investor muda melonjak tajam, terdapat risiko membayangi yang bersumber dari rendahnya tingkat literasi keuangan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu pengambilan keputusan investasi yang bersifat emosional.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 memperlihatkan gap atau kesenjangan antara inklusi keuangan dan literasi keuangan melebar menjadi 14,05%, naik dari angka 9,59% pada tahun 2024. Data tersebut mengindikasikan banyak masyarakat menggunakan layanan keuangan tanpa memahami fungsi dan risikonya.

Di samping itu, tantangan lain datang dari gaya hidup konsumtif yang berisiko menghambat pencapaian target investasi sekaligus memperbesar peluang terjerat pinjaman online. Investor muda juga diingatkan atas risiko konsentrasi portofolio yang terlalu tinggi pada satu instrumen saja, seperti kripto atau deposito berbunga rendah yang rentan tergerus inflasi.

Strategi Pengelolaan Portofolio bagi Pemuda

Menghadapi berbagai risiko tersebut, Ade membagikan tiga strategi utama untuk memandu para investor muda dalam mengelola portofolio mereka secara bijak. Langkah pertama adalah meningkatkan literasi keuangan secara konsisten dan berkelanjutan.

ÔÇ£Literasi keuangan merupakan kekuatan, dan bisa membantu kita membuat keputusan keuangan yang lebih bijak dan percaya diri melalui semua tahapan kehidupan,ÔÇØ katanya.

Langkah kedua adalah mengimplementasikan prinsip diversifikasi portofolio atau don't put all your money in one basket. Investor disarankan mengombinasikan berbagai jenis aset seperti saham blue-chip, pasar uang, obligasi, properti, hingga emas untuk menyebar risiko.

Langkah ketiga adalah menjaga kedisplinan dalam mengatur keuangan, misalnya dengan mencatat seluruh pengeluaran harian serta berkomitmen untuk tidak menunda berinvestasi sejak dini.

ÔÇ£Dengan disiplin yang kuat, literasi yang baik, dan diversifikasi portofolio, semua potensi risiko tersebut dapat minimalkan,ÔÇØ tutup Ade.

Artikel terkait

Rekomendasi