Investor Muda Alihkan Aset ke Reksa Dana Saat IHSG Melemah

Investor Muda Alihkan Aset ke Reksa Dana Saat IHSG Melemah
Foto: Ilustrasi Investor Muda Alihkan Aset ke Reksa Dana Saat IHSG Melemah.

Sejumlah investor muda di Jakarta mulai mendiversifikasi aset ke instrumen reksa dana setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk di bawah level 7.000 pada Kamis (30/4/2026). Langkah ini diambil guna menekan risiko kerugian portofolio di tengah gejolak pasar modal global.

Dilansir dari Market, tekanan pasar menyebabkan saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyentuh level terendah dalam setahun di angka 5.850. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing mencatat jual bersih sebesar Rp45,38 triliun sepanjang tahun berjalan hingga akhir April 2026.

Ardi, seorang investor saham berusia 31 tahun, mengaku mengalami tekanan mental akibat penurunan nilai asetnya yang cukup dalam. Ia sebelumnya mengandalkan sektor perbankan, tambang, dan energi sebagai motor pertumbuhan portofolionya.

"Awalnya saya pikir investasi di perbankan itu bakal aman, ternyata tetap saja bikin panik," ujar Ardi, Investor Saham.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan investor lain yang telah menerapkan strategi pembagian aset. Putra, investor berusia 36 tahun, mengaku lebih tenang menghadapi fluktuasi pasar karena sebagian besar dananya ditempatkan pada produk reksa dana pasar uang.

"Kalau semua ditaruh di saham, mental bisa habis duluan. Makanya saya pecah risikonya," ujar Putra, Investor Reksa Dana.

Kecenderungan investor baru yang terjebak pada ekspektasi tinggi tanpa pemahaman risiko menjadi perhatian praktisi keuangan. Berdasarkan data KSEI, jumlah investor pasar modal telah melampaui 26 juta identitas (SID) per April 2026 dengan dominasi kelompok usia di bawah 30 tahun.

Founder Oneshildt, Mohamad Andoko, menekankan pentingnya analisis mendalam sebelum menempatkan dana pada instrumen berisiko tinggi. Ia menyarankan investor untuk memulai investasi sedini mungkin guna memanfaatkan efek bunga majemuk.

"Jangan FOMO. Pelajari produknya, analisa, analisa, dan analisa," kata Mohamad Andoko, Founder Oneshildt dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia.

Andoko juga menyoroti pentingnya faktor waktu sebagai elemen kunci dalam strategi penempatan dana bagi mereka yang baru memiliki penghasilan. Menurutnya, alokasi investasi harus diprioritaskan di awal bulan.

"Kalau sudah mulai punya penghasilan, misalnya usia 22ÔÇô23 tahun, wajib mulai investasi. Rumus utama investasi itu waktu," ujar Mohamad Andoko, Founder Oneshildt dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia.

Andoko menambahkan bahwa mayoritas investor di Indonesia saat ini masih cenderung memilih instrumen yang dikelola secara profesional untuk menghindari kerumitan analisis mandiri.

"Sekitar 77% investor Indonesia masih memilih fixed income dan money market karena tidak terlalu pusing, dikelola profesional," kata Mohamad Andoko, Founder Oneshildt dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia.

Meskipun demikian, ia tetap mengingatkan adanya risiko kinerja manajer investasi yang mungkin berada di bawah target acuan pasar. Investor diminta tetap selektif dalam memilih produk agar pertumbuhan aset tidak terhambat.

"Jangan sampai waktu habis, return jelek, waktu habis untuk menunggu," ujar Mohamad Andoko, Founder Oneshildt dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total dana kelolaan reksa dana mencapai Rp1.084 triliun per Maret 2026. Direktur Pengawasan dan Pengelolaan Investasi 1 OJK, Sujanto, menilai potensi pertumbuhan investor masih sangat terbuka lebar jika merujuk pada jumlah penduduk usia produktif.

"Jadi masih banyak ketimpangan, banyak yang sebenarnya masih bisa dikejar," ujar Sujanto, Direktur Pengawasan dan Pengelolaan Investasi 1 OJK.

Sujanto memaparkan bahwa dengan 196 juta penduduk usia produktif, selisih jumlah investor saat ini masih memberikan peluang besar bagi industri pasar modal untuk terus berkembang.

"Artinya kalau dibandingkan dengan yang 23 juta investor tadi, peluang kita mengejar kelompok produktif menjadi investor masih banyak sekali," ujar Sujanto, Direktur Pengawasan dan Pengelolaan Investasi 1 OJK.

Dalam upaya memperkuat ekosistem tersebut, OJK menegaskan bahwa kuantitas investor harus diiringi dengan peningkatan literasi keuangan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, meminta pelaku industri untuk proaktif memberikan edukasi.

"Pendalaman pasar tidak hanya diukur dengan peningkatan angka jumlah investor, akan tetapi juga upaya memperkuat kualitas ekosistem pasar. Pelaku industri diharapkan terus berperan aktif sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat," kata Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK.

OJK kemudian meresmikan Program Pintar Reksa Dana pada April 2026 sebagai langkah reformasi sistemik. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan program ini bertujuan memperkuat peran pasar modal dalam ekonomi nasional.

"Program ini juga menjadi bagian dari reformasi sistemik untuk memperkuat peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional," kata Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.

Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) turut mendukung langkah tersebut dengan mendorong budaya investasi terencana. Ketua Presidium APRDI, Lolita Liliana, menekankan pentingnya konsistensi dalam berinvestasi.

"Program Pintar Reksa Dana diharapkan dapat menggerakkan masyarakat agar mulai berinvestasi rutin dan terencana untuk mencapai tujuan keuangan masa depan," kata Lolita Liliana, Ketua Presidium APRDI.

Lolita menilai pertumbuhan industri saat ini menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang semakin menguat terhadap pengelolaan dana profesional. Momentum ini diharapkan dapat terus terjaga di kalangan generasi muda.

"Ini namanya enggak rugi lagi, tapi sudah jadi donatur dan dermawan di pasar modal," ujar Ardi, Investor Saham.

Artikel terkait

Rekomendasi