Jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia mencapai 21,37 juta akun pada Maret 2026 meskipun pasar sedang mengalami konsolidasi akibat tekanan global. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka tersebut menunjukkan kenaikan tipis dibandingkan bulan sebelumnya di tengah penurunan nilai transaksi domestik.
Total nilai perdagangan aset kripto nasional pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp 28,04 triliun, yang terbagi atas Rp 22,24 triliun di pasar spot dan Rp 5,8 triliun pada instrumen derivatif. Angka ini dilansir dari Money menunjukkan penurunan sebesar 4,7 persen dibandingkan perolehan Februari 2026 yang mencapai Rp 24,33 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menjelaskan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada Selasa (5/5/2026) bahwa koreksi harga merupakan siklus normal. Penurunan aktivitas transaksi dinilai sebagai efek normalisasi setelah lonjakan harga pasca-halving Bitcoin tahun 2024.
"Ini tentunya menjadi high base effect, bukan pelemahan fundamental. Kondisi ini juga sejalan dengan pasar global, di mana market cap kripto turun sekitar 45 persen dari all time high sebesar 4,2 triliun dollar AS pada Oktober 2025 menjadi sekitar 2,3 triliun dollar AS pada Maret 2026," ujar Adi Budiarso, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK.
Akumulasi nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang periode Januari hingga Maret 2026 kini telah menyentuh angka Rp 75,83 triliun. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyatakan bahwa perlambatan aktivitas perdagangan dalam negeri sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko.
"Kami melihat perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi meningkatnya sentimen risk-off global. Investor saat ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas masih tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian utama pasar," ucap Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Kizana menambahkan bahwa para pelaku pasar saat ini lebih memilih strategi defensif dengan mengalihkan portofolio ke aset yang memiliki likuiditas lebih tinggi. Hal ini dilakukan untuk memitigasi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi makro yang masih membayangi pasar digital.
"Investor tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih tepat dibaca sebagai fase wait and see," katanya Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Meskipun pasar sedang berkonsolidasi, minat masyarakat terhadap kripto dianggap tetap stabil yang dibuktikan dengan penambahan jumlah pengguna. Kepercayaan ini didasari oleh pandangan bahwa aset digital masih memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup dan kondisi ekonomi melalui aktivitas perdagangan.
"Masih ada kepercayaan dari masyarakat bahwa pasar kripto bisa memberikan dampak positif bagi portofolio investasi mereka. Kenaikan jumlah investor di tengah fase konsolidasi menunjukkan banyak masyarakat masih melihat kripto sebagai peluang untuk mendapatkan hasil positif dari aktivitas trading, yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi dan kualitas hidup mereka," lanjut Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Prospek pasar pada kuartal II 2026 diprediksi akan mengalami perbaikan setelah Bitcoin kembali melewati level 80.000 dollar AS pada awal Mei 2026. Namun, pemulihan ini diperkirakan akan berlangsung secara selektif tergantung pada kondisi inflasi dan kebijakan moneter global.
"Bitcoin masih menjadi barometer utama sentimen pasar kripto. Ketika BTC mampu bertahan di atas level penting seperti kisaran 78.000 dollar AS hingga 80.000 dollar AS, kepercayaan investor biasanya mulai membaik. Namun, pemulihan ini kemungkinan masih selektif karena pasar tetap mencermati faktor makro, inflasi, geopolitik, dan kebijakan moneter global," jelas Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Tokocrypto juga menyoroti pentingnya kebijakan pajak yang kompetitif sebagai katalis utama untuk memperkuat ekosistem industri kripto di Indonesia. Regulasi yang mendukung dinilai akan menjaga agar aktivitas perdagangan tetap berada di bawah pengawasan otoritas resmi negara.
"Pajak yang lebih kompetitif akan membantu meningkatkan daya tarik transaksi melalui exchange resmi di dalam negeri. Ini penting agar aktivitas perdagangan tetap berada di platform yang diawasi regulator, sehingga perlindungan investor dan transparansi pasar tetap terjaga," kata Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
OJK sendiri terus memperketat pengawasan melalui penerapan standar KYC, KYT, serta Customer Due Diligence untuk menjamin keamanan transaksi. Di sisi lain, investor ritel diingatkan untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan menghindari pengambilan keputusan berdasarkan emosi semata.
"Dalam kondisi pasar yang menurun, fokus utama investor sebaiknya bukan mengejar keuntungan cepat, tetapi menjaga modal dan mengelola risiko. Hindari keputusan emosional, batasi penggunaan leverage, pahami aset sebelum bertransaksi, dan gunakan platform resmi yang diawasi regulator," ungkap Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.