Investor Institusional Jepang Tingkatkan Minat Investasi Kripto

Investor Institusional Jepang Tingkatkan Minat Investasi Kripto
Foto: Ilustrasi Investor Institusional Jepang Tingkatkan Minat Investasi Kripto.

Sebanyak 65 persen profesional investasi di Jepang kini memandang aset kripto sebagai instrumen penting untuk diversifikasi portofolio mereka. Ketertarikan yang meningkat dari kalangan investor institusional ini didorong oleh membaiknya sentimen pasar serta kejelasan regulasi.

Data tersebut diperoleh melalui survei terbaru yang digelar oleh perusahaan induk keuangan asal Jepang, Nomura, bersama unit aset digitalnya yang bernama Laser Digital. Hasil riset yang melibatkan lebih dari 500 profesional investasi ini dilansir dari Investortrust pada Senin (20/4/2026).

Survei tersebut mengungkapkan bahwa 79 persen investor yang sedang mempertimbangkan eksposur memiliki rencana untuk menyuntikkan modal ke kripto dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Selain itu, porsi responden yang memiliki pandangan positif terhadap prospek kripto dalam 12 bulan mendatang naik menjadi 31 persen, dari yang sebelumnya hanya 25 persen pada tahun lalu.

Meski sentimen positif terus menguat dan pandangan negatif mulai menyusut, mayoritas pelaku pasar rupanya masih menerapkan pendekatan yang konservatif. Porsi alokasi dana yang disiapkan untuk aset ini tergolong kecil, yakni hanya berkisar antara 2 persen hingga 5 persen dari keseluruhan total portofolio, yang menandakan adopsi kripto masih berada pada fase awal.

Kehadiran produk finansial baru seperti ETF kripto dan aset yang ditokenisasi turut andil dalam menekan ketidakpastian yang selama ini menghalangi masuknya institusi besar. Kejelasan regulasi baik di tingkat domestik Jepang maupun secara global juga memicu lonjakan minat investasi ini.

Lebih jauh lagi, para pemodal tidak sekadar memburu eksposur keuntungan dari pergerakan harga. Sebanyak lebih dari 60 persen partisipan riset menunjukkan ketertarikan pada strategi yang lebih kompleks seperti aktivitas staking, peminjaman, instrumen derivatif, hingga proses tokenisasi aset.

Kebutuhan operasional seperti manajemen kas hingga urusan pembayaran lintas negara juga membuat 63 persen responden melihat potensi besar dalam penggunaan stablecoin. Walaupun begitu, pelaku pasar tetap memperhitungkan sejumlah tantangan nyata seperti volatilitas pasar yang tinggi, risiko pihak lawan, serta belum matangnya kerangka penilaian untuk aset kripto.

Artikel terkait

Rekomendasi