Aksi beli bersih oleh investor asing terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai nilai Rp259,27 miliar pada penutupan sesi pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Lonjakan minat pasar ini mendorong harga saham BBRI menguat signifikan sebesar 3,62 persen atau naik 110 poin menuju level Rp3.150 per lembar saham.
Kenaikan harga saham bank yang fokus pada sektor UMKM tersebut menjadi motor utama yang mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,29 persen ke posisi 7.061.
Dilansir dari Suara, nilai akumulasi investor asing pada saham BBRI merupakan yang tertinggi kedua di bursa, tepat di bawah posisi PT Barito Pacific Tbk (BRPT).
Para pelaku pasar menilai harga saham BBRI saat ini sangat atraktif karena berada di area valuasi yang jauh di bawah rata-rata historisnya selama lima tahun terakhir.
Indikator Price to Book Value (PBV) perusahaan tercatat di angka 1,4 kali, yang secara statistik berada di level minus dua standar deviasi dari nilai wajarnya.
Analis pasar Victor Stefano memberikan pandangannya bahwa penurunan harga yang sempat terjadi sebelumnya lebih disebabkan oleh faktor eksternal daripada fundamental perusahaan.
"Koreksi harga yang sempat terjadi sebelumnya lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen luar ketimbang penurunan kinerja internal perusahaan."Sejumlah lembaga sekuritas seperti Samuel Sekuritas tetap memberikan rekomendasi beli dengan target harga saham diproyeksikan mampu menyentuh level Rp4.400.
Mandiri Sekuritas turut menetapkan rekomendasi serupa dengan target harga Rp4.100, didukung oleh kualitas aset yang terjaga serta tingkat profitabilitas yang unggul di kelasnya.
Komitmen Dividen dan Kinerja Keuangan
Daya tarik investasi pada bank plat merah ini semakin kuat menyusul keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 10 April lalu.
Pemegang saham telah menyetujui pembagian dividen final sebesar Rp209 per saham, yang memberikan potensi imbal hasil atau dividend yield sekitar 6,2 persen.
BRI mengalokasikan total dana sebesar Rp52,1 triliun untuk dividen tahun buku 2025 dengan rasio pembayaran yang meningkat menjadi 92 persen dari sebelumnya 86 persen.