Chief Executive Officer Capital Group, Mike Gitlin, mengimbau investor generasi Z untuk menghindari pola investasi berbasis hobi atau tren sesaat guna membangun kekayaan berkelanjutan. Pesan ini disampaikan pada Rabu (22/4/2026) sebagai respons atas fenomena investor muda yang cenderung mengikuti minat pribadi dibandingkan analisis fundamental.
Strategi investasi jangka panjang dinilai lebih krusial bagi anak muda dibandingkan sekadar mencoba peruntungan di pasar keuangan, sebagaimana dilansir dari Money. Gitlin menekankan bahwa orientasi masa depan harus menjadi landasan utama bagi mereka yang baru memulai portofolio keuangan.
ÔÇ£Investor muda harus mendekati pasar dengan pola pikir membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar ÔÇÿhobby investingÔÇÖ,ÔÇØ ujar Mike Gitlin, CEO Capital Group.
Pernyataan tersebut menanggapi keraguan para remaja terhadap komoditas tertentu yang dianggap hanya mencari keuntungan dari situasi konflik global. Namun, Gitlin berpendapat bahwa fokus pada komoditas seperti minyak atau emas bukan merupakan strategi ideal untuk jangka sangat panjang.
ÔÇ£Baik emas maupun minyak bukan tempat mereka seharusnya berpikir untuk menempatkan uang selama 75 tahun ke depan,ÔÇØ kata Gitlin.
Ia menjelaskan bahwa upaya memprediksi pergerakan pasar komoditas memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Hal ini bahkan berlaku bagi para pengelola dana profesional yang sudah berpengalaman bertahun-tahun di industri keuangan.
ÔÇ£Menentukan waktu pasar komoditas itu sangat sulit, bahkan bagi profesional, apalagi untuk anak usia 13 tahun,ÔÇØ ujar Gitlin.
Sebagai alternatif, ia menyarankan penggunaan portofolio simulasi untuk mempelajari pergerakan saham dan obligasi. Pendekatan ini diharapkan dapat mengalihkan perhatian investor muda dari fluktuasi harian menuju pemahaman kondisi makroekonomi yang lebih luas.
ÔÇ£Buat mereka tertarik pada saham dan obligasi, kondisi makro yang lebih luas, serta apa yang sedang terjadi di dunia,ÔÇØ ucap Gitlin.
Saran tersebut muncul di tengah laporan World Economic Forum yang menunjukkan penurunan kepercayaan generasi muda terhadap institusi keuangan tradisional. Sekitar 20 persen calon investor memilih menjauh dari pasar karena faktor ketidakpercayaan tersebut.
Kondisi pasar global sendiri menunjukkan ketangguhan meski terdapat ketegangan geopolitik yang berlangsung hampir dua bulan. Indeks MSCI World bahkan telah melampaui level sebelum konflik, didorong oleh optimisme investor terhadap kinerja laba perusahaan di masa depan.
ÔÇ£Pasar sangat tangguh. Investor melihat ke depan, sekitar tiga sampai lima tahun, pada kinerja laba dan profitabilitas perusahaan,ÔÇØ kata Gitlin.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak tetap menjadi indikator kunci yang perlu dipantau secara ketat. Kenaikan harga energi yang persisten dikhawatirkan dapat memicu inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi global secara menyeluruh.
ÔÇ£Jika minyak tetap tinggi dalam waktu lama, inflasi akan naik dan pertumbuhan melambat. Pasar akan bereaksi terhadap kondisi itu,ÔÇØ ujar Gitlin.