Sektor hilirisasi nikel berhasil membukukan realisasi investasi sebesar Rp 41,5 triliun pada kuartal I 2026 untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri mineral global. Capaian ini diumumkan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jakarta pada Kamis (23/4/2026).
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa besarnya cadangan nikel nasional menjadi daya tarik utama bagi investor internasional. Dilansir dari Money, Indonesia menguasai hampir separuh dari total cadangan mineral tersebut di seluruh dunia.
"Nikel ini kita punya 42 persen cadangan dunia, dan itu ada di Indonesia. Tentunya membuat nikel masih menjadi penunjang foreign direct investment (FDI) terbesar yang masuk ke Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Sektor mineral mencatatkan total investasi hilirisasi senilai Rp 98,3 triliun dengan dominasi utama dari komoditas nikel. Meskipun nikel memimpin secara signifikan, beberapa komoditas mineral lainnya juga turut menyumbangkan angka investasi dalam jumlah yang bervariasi.
| Komoditas | Nilai Investasi (Rupiah) |
|---|---|
| Nikel | Rp 41,5 Triliun |
| Tembaga | Rp 20,7 Triliun |
| Besi | Rp 17 Triliun |
| Bauksit | Rp 13,7 Triliun |
| Timah | Rp 2,5 Triliun |
| Lainnya (Emas, Kobalt, dsb) | Rp 2,9 Triliun |
Menteri Rosan mencermati adanya potensi pertumbuhan pada sektor lain, terutama pada komoditas bauksit yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan awal. Pihaknya memprediksi akan ada kenaikan nilai investasi yang cukup besar seiring berjalannya proyek-proyek baru.
ÔÇ£Karena investasi di bauksit untuk hilirisasinya kita lihat baru mulai berjalan, ada beberapa. Jadi saya melihatnya nanti bauksit juga akan meningkat cukup signifikan,ÔÇØ kata dia.
Secara kumulatif, total investasi hilirisasi nasional menyentuh angka Rp 147,5 triliun atau tumbuh sebesar 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain mineral, sektor migas menyumbang Rp 17,7 triliun, perkebunan dan kehutanan Rp 29,8 triliun, serta perikanan sebesar Rp 1,7 triliun.