Sektor pariwisata nasional menerima suntikan berbagai insentif strategis dari pemerintah sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian geopolitik global dan krisis energi di Timur Tengah, seperti dilansir dari Detik Travel.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana usai menghadiri Rakornas Pariwisata di Jakarta menyampaikan bahwa lonjakan harga avtur akibat krisis tersebut memicu kenaikan harga tiket pesawat yang menjadi tantangan besar industri.
ÔÇ£Tentu krisis energi ini berdampak pada meningkatnya harga avtur. Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan kementerian lainnya untuk memberikan insentif seperti diskon pesawat kelas ekonomi, PPN-nya ditanggung pemerintah,ÔÇØ ujar Widiyanti Putri Wardhana.
Pemberian diskon kursi kelas ekonomi bertujuan menjaga keterjangkauan harga tiket bagi wisatawan, sementara tekanan biaya maskapai ditekan lewat pembebasan bea masuk impor suku cadang pesawat hingga nol persen.
Langkah taktis juga disiapkan demi mengantisipasi potensi penurunan angka kunjungan turis dari wilayah yang sedang dilanda konflik global.
ÔÇ£Kita harus siasati bagaimana mengisi kekurangan akibat krisis dari Timur Tengah,ÔÇØ kata Widiyanti Putri Wardhana.
Kini kebijakan pariwisata dialihkan untuk menyasar kelompok wisatawan berkualitas yang lebih mementingkan pengalaman bermakna ketimbang sensitif terhadap perubahan biaya perjalanan.
ÔÇ£Bukan hanya melihat pantai atau gunung, tapi bagaimana mereka bisa bertemu dengan komunitas. Apalagi Indonesia terkenal karena masyarakatnya ramah,ÔÇØ ujar Widiyanti Putri Wardhana.
Di sisi lain, Plt. Deputi Industri dan Investasi Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa menilai penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat dapat dikelola menjadi peluang kompetitif bagi destinasi wisata domestik.
ÔÇ£Kenaikan harga avtur berdampak pada kenaikan biaya wisata. Ini perlu dibahas. Namun, situasi ini juga membuat destinasi Indonesia lebih kompetitif,ÔÇØ jelas Rizki Handayani Mustafa.
Pelemahan nilai tukar rupiah dipandang secara tidak langsung membuat posisi Indonesia di pasar internasional memiliki daya tawar keterjangkauan yang lebih kuat dari negara kompetitor.
ÔÇ£Saya tidak mau bilang murah, tetapi affordable. Ini bisa menjadi kekuatan kita karena affordability Indonesia lebih kuat dibandingkan negara lain,ÔÇØ ujar Rizki Handayani Mustafa.