Tingginya adopsi layanan keuangan digital di Indonesia saat ini belum dibarengi dengan pemahaman risiko yang memadai. Kondisi tersebut menempatkan kelompok mahasiswa dalam posisi rentan terjebak utang konsumtif di tengah ekosistem cashless yang serba instan, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Kesenjangan yang lebar antara akses keuangan atau inklusi dengan pemahaman keuangan atau literasi terungkap dalam seminar literasi keuangan bertajuk "Cashless, Careless: Jadi Mahasiswa Cerdas Finansial di Era Digital" di Binus Alam Sutera.
Berdasarkan data, Indeks Inklusi Keuangan Nasional mencapai 80,51 persen, sementara Indeks Literasi Keuangan Nasional berada di angka 66,46 persen. Untuk usia 18ÔÇô25 tahun, indeks inklusi mencapai 89,96 persen sedangkan literasi berada di angka 73,22 persen.
CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi menekankan bahwa meskipun generasi muda sangat adaptif terhadap teknologi, mereka cenderung lemah dalam kontrol keuangan. Budaya You Only Live Once (YOLO) dan Fear of Missing Out (FOMO) menjadi pemicu utama perilaku konsumtif yang berujung pada penggunaan pinjaman online dan paylater secara tidak bijak.
ÔÇ£Banyak anak muda sudah aktif berinvestasi, tetapi belum tentu paham cara mengelola risiko. Hal ini membuat mereka rentan terhadap jebakan utang,ÔÇØ ujarnya.
Saat ini, investor pasar modal domestik didominasi oleh usia di bawah 30 tahun sebesar 99,78 persen. Sementara itu, jumlah investor kripto kini telah melampaui angka 21 juta orang.
Kerugian Akibat Kejahatan Digital Tembus Rp9,1 Triliun
Direktur Departemen Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Andi Muhammad Yusuf, mengungkapkan bahwa rendahnya literasi menjadi celah bagi kejahatan keuangan digital. Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC), nilai kerugian akibat kejahatan keuangan digital mencapai Rp9,1 triliun sepanjang November 2024 hingga Januari 2026.
ÔÇ£Orang memakai produk keuangan tapi tidak paham apa yang dipakai. Ini mengandung kerawanan, termasuk meningkatnya pengaduan dan potensi kejahatan,ÔÇØ tegas Andi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini tengah menggencarkan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) untuk menekan angka kerugian tersebut.
Tren Investasi Kripto dan Perdagangan Berjangka
Sektor investasi digital di tanah air juga menunjukkan dinamika yang tinggi. Direktur CFX, Lukas Lauw, menyebutkan bahwa 52 persen investor kripto di Indonesia berasal dari kelompok usia 18ÔÇô24 tahun. Namun, sensitivitas terhadap harga sangat tinggi, terbukti dengan nilai transaksi yang terkoreksi menjadi Rp75,8 triliun pada kuartal I-2026.
| Instrumen Investasi | Karakteristik & Risiko |
|---|---|
| Aset Kripto | High Volatility, didominasi mahasiswa (52%). |
| Pasar Modal | Dominasi investor lokal < 30 tahun (99,78%). |
| Perdagangan Berjangka | High Risk-High Gain, akses pasar global (Forex, Emas). |
Presiden Direktur Dupoin Futures Indonesia, Gunawan Herman, menambahkan bahwa mahasiswa perlu melirik instrumen lain seperti perdagangan berjangka komoditas sebagai sarana belajar ekonomi global. Walau demikian, pembelajaran tersebut harus dilakukan dengan kewaspadaan tinggi terhadap risiko high risk, high gain.
Sebagai langkah preventif, Direktur Utama ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari, mengingatkan pentingnya fitur keamanan seperti two-factor authentication (2FA) dan verifikasi PIN/OTP untuk melindungi transaksi digital dari akses ilegal.