Laju inflasi utama di Jepang dilaporkan melandai ke level 2,1 persen pada Desember 2026, yang menjadi angka terendah sejak Maret 2022. Penurunan tajam dari posisi 2,9 persen pada November ini terjadi di tengah bayang-bayang tingginya harga beras yang membebani rumah tangga menjelang pemilu.
Data pemerintah yang dirilis pada Jumat (23/1/2026) menunjukkan perlambatan tekanan harga di berbagai sektor ekonomi negara tersebut. Sebagaimana dilansir dari Investortrust, meskipun mendingin, angka ini menandai bulan ke-45 berturut-turut inflasi Jepang bertahan di atas target sasaran Bank of Japan (BOJ) sebesar 2 persen.
Indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan tren serupa, di mana inflasi inti yang tidak menghitung harga makanan segar tercatat sebesar 2,4 persen. Sementara itu, inflasi "core-core" yang mengecualikan komponen energi turut melandai ke angka 2,9 persen dari sebelumnya 3 persen.
Sepanjang tahun 2026, inflasi tahunan Jepang berada di level 3,2 persen setelah sempat mencapai titik puncak pada Januari 2025. Penurunan ini didorong oleh stabilisasi harga energi global serta melemahnya tekanan biaya dari komoditas impor yang sebelumnya melonjak.
Kondisi kontras justru terjadi pada komoditas beras yang mencatatkan inflasi sebesar 34,4 persen secara tahunan pada Desember lalu. Meskipun laju inflasinya mulai melambat dalam tujuh bulan terakhir, harga fisik beras di pasar masih bertahan di dekat level tertinggi sepanjang sejarah Jepang.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian Jepang, harga rata-rata satu kantong beras ukuran 5 kilogram mencapai 4.267 yen pada pekan yang berakhir 11 Januari. Lonjakan ini menjadi isu sensitif mengingat memori krisis pasokan tahun 2025 yang sempat menyebabkan pergantian Menteri Pertanian.
Perdana Menteri Sanae Takaichi merespons situasi ini dengan menjadikan biaya hidup sebagai fokus utama kampanye menjelang pemilu pada 8 Februari mendatang. Takaichi berencana membubarkan Majelis Rendah hari ini dan telah menjanjikan penangguhan pajak makanan sebesar 8 persen selama dua tahun.
Kebijakan tersebut melengkapi paket stimulus senilai US$135 miliar yang telah diluncurkan pemerintah tahun lalu untuk menjaga daya beli warga. Paket bantuan tersebut mencakup subsidi langsung untuk tagihan gas dan listrik serta hibah bagi pemerintah daerah guna meredam dampak kenaikan harga pangan.
Di sisi lain, Bank of Japan dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter terbarunya pada hari ini. Mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga di level 0,75 persen sembari merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaru untuk tahun 2026.