Inflasi Inggris Meningkat Capai 3,3 Persen Akibat Konflik Iran

Inflasi Inggris Meningkat Capai 3,3 Persen Akibat Konflik Iran
Foto: Ilustrasi Inflasi Inggris Meningkat Capai 3,3 Persen Akibat Konflik Iran.

Inflasi tahunan Inggris mengalami kenaikan menjadi 3,3 persen pada Maret 2026 sebagai dampak langsung dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang menekan harga energi. Dilansir dari Money, angka tersebut meningkat dari posisi 3 persen pada Februari sesuai catatan Office for National Statistics (ONS).

Kepala ekonom ONS, Grant Fitzner, menjelaskan bahwa lonjakan ini terutama didorong oleh harga bahan bakar minyak yang mencapai titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Komoditas lain seperti tarif penerbangan dan harga pangan turut memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan indeks harga konsumen pada periode tersebut.

Sisi produksi juga mengalami tekanan akibat mahalnya harga minyak mentah yang meningkatkan biaya bahan baku di tingkat pabrik. Meski kenaikan harga pakaian cenderung lebih rendah dibanding tahun lalu, beban biaya hidup bagi masyarakat Inggris diperkirakan akan tetap berat selama konflik di Iran terus berlanjut.

Ekonom utama Inggris di Deutsche Bank, Sanjay Raja, menyoroti dampak nyata konflik tersebut terhadap distribusi energi di pasar domestik.

"Harga di pompa bensin dan minyak pemanas kemungkinan akan meningkat tajam hingga akhir kuartal," ujar Sanjay Raja, Ekonom Utama Inggris di Deutsche Bank.

Kenaikan inflasi ini mengubah proyeksi kebijakan suku bunga Bank of England yang semula diharapkan akan turun karena inflasi sempat mendekati target 2 persen. Kini, bank sentral dihadapkan pada dilema antara menaikkan suku bunga untuk meredam harga atau menahannya guna menghindari risiko stagflasi.

Kepala ekonom ICAEW, Suren Thiru, memberikan peringatan mengenai potensi kenaikan inflasi yang jauh lebih tinggi di masa mendatang.

"Perpanjangan gencatan senjata tidak akan mencegah periode sulit dengan inflasi yang terus meningkat. Lonjakan biaya energi dan harga pangan kemungkinan akan mendorong inflasi melampaui 4 persen pada musim gugur, meskipun permintaan ekonomi melemah," ujar Suren Thiru, Kepala Ekonom ICAEW.

Thiru juga menilai bahwa pelemahan ekonomi jangka panjang pada akhirnya dapat menjadi faktor alami yang menekan harga kembali turun. Hal ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga saat ini.

Dampak ekonomi global juga terlihat dari laporan World Economic Outlook edisi April 2026 yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF). Badan tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris menjadi 0,8 persen dari estimasi sebelumnya sebesar 1,3 persen.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara G7 Tahun 2026
NegaraProyeksi Pertumbuhan (%)
Amerika Serikat2,3
Spanyol2,1
Uni Eropa1,1
Prancis0,9
Inggris0,8

Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, mengakui bahwa situasi keamanan di Timur Tengah memberikan konsekuensi finansial yang tidak terhindarkan bagi negaranya.

"Perang di Iran bukan perang kami, tetapi akan membawa biaya bagi Inggris. Ini bukan biaya yang saya inginkan, tetapi ini adalah biaya yang harus kami tanggapi," ujar Rachel Reeves, Menteri Keuangan Inggris.

IMF mengingatkan bahwa pemerintah Inggris memiliki ruang fiskal yang sangat terbatas untuk melakukan intervensi pasar atau pemberian bantuan tambahan. Pentingnya kehati-hatian dalam alokasi anggaran ditekankan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional yang sedang tertekan.

"Tidak banyak ruang untuk meningkatkan belanja guna mendukung rumah tangga dan bisnis," kata Pierre-Olivier Gourinchas, Kepala Ekonom IMF.

Kondisi Inggris sebagai importir bersih energi membuatnya tetap rentan terhadap gejolak pasar global. IMF memperkirakan inflasi Inggris akan bertahan pada angka 3,2 persen sepanjang tahun ini sebelum melandai ke level 2,4 persen pada 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi